TANGERANG,KITAKATOLIK.COM–Indeks disposisi matematis siswa Indonesia yang disorot oleh Programme for International Student Assesment (PISA) memicu lahirnya inovasi Project-Based Learning (PBL) di SMP Tarakanita Citra Raya.
Melalui kolaborasi guru dan siswa, mereka berhasil menciptakan alat peraga sederhana, yaitu “Wayang Bilangan Bulat” dan “Integer Jump”, sebagai intervensi untuk meningkatkan keyakinan diri (self-efficacy) dan kemampuan representasi matematika siswa kelas VII pada materi bilangan bulat.
Tantangan ini berakar dari data PISA 2022, di mana indeks keyakinan diri matematika (self-efficacy) siswa Indonesia hanya berada di angka $-0,22$. Angka ini jauh di bawah rata-rata Organinisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar $0,00$.
Rendahnya keyakinan diri ini diperparah oleh kesulitan siswa dalam memvisualisasikan operasi hitung bilangan bulat, khususnya yang melibatkan bilangan negatif dan konsep pengurangan, seperti $a+(-b)$, yang sering kali memicu kecemasan.

Menanggapi urgensi tersebut, guru-guru MIPA SMP Tarakanita Citra Raya menginisiasi proyek pembuatan alat peraga. Tujuan utamanya adalah menjembatani konsep abstrak bilangan bulat ke dalam bentuk visual dan konkret. Alat peraga yang dihasilkan, “Wayang Bilangan Bulat” dan “Integer Jump”, berbasis pada penggunaan garis bilangan sebagai model dasar operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Konsep Wayang Bilangan Bulat, misalnya, dikemas dalam narasi sederhana. Salah seorang siswa kelas VII menjelaskan, “Penggunaan wayang bilangan bulat bisa dijelaskan dengan sederhana seperti permainan langkah. Jika wayang melakukan kebaikan, maka ia akan maju ke arah bilangan positif…
Sebaliknya, jika wayang melakukan kesalahan, maka ia akan mundur ke arah bilangan negatif.” Alat peraga “Integer Jump” menggunakan pion untuk memvisualisasikan langkah pada garis bilangan, misalnya $7+(-3)$ diartikan sebagai melangkah ke kiri sebanyak tiga kali dari petak 7.
Penggunaan garis bilangan yang menjadi inti alat peraga ini diklaim mampu mengurangi misconception siswa, seperti anggapan bahwa $-10$ lebih besar dari $-5$. Selain itu, alat peraga ini berfungsi sebagai jembatan penting untuk membantu siswa mengubah masalah verbal (pemodelan matematika) menjadi model visual sebelum beralih ke representasi simbolik yang abstrak. Temuan penelitian Rizky Yuliani, dkk (2020) yang menyoroti perlunya intervensi untuk meningkatkan sikap positif siswa terhadap matematika turut memperkuat langkah ini.

Langkah inovasi yang dilakukan ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam menjawab tantangan PISA melalui intervensi berbasis media visual. Keberhasilan dalam membuat dan menggunakan alat peraga diharapkan tidak hanya mempermudah pemahaman konsep, tetapi yang utama adalah meningkatkan keyakinan diri (self-efficacy) dan menumbuhkan representasi matematika yang lebih kuat.
Dengan pengalaman belajar yang positif ini, matematika diharapkan dapat dilihat siswa sebagai alat yang dapat divisualisasikan, dipahami, dan dikuasai, bukan lagi subjek yang menakutkan. (Katarina Ciesa Maharani Wardoyo, S.Pd., Guru Matematika SMP Tarakanita Citra Raya).

