Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” 4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”
Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”
Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yohanes 4:5-15.19b-26.39a.40-42).

Oleh: Romo Arkadius Dhosa, Pastor Paroki Maria Tak Bernoda, Lela, Keuskupan Maumere.
SALAH satu kebutuhan paling dasar dalam kehidupan manusia adalah air. Tanpa air manusia tidak dapat hidup. Karena itu ketika bangsa Israel berjalan di padang gurun dan tidak menemukan air, mereka merasa sangat menderita. Mereka mulai bersungut-sungut dan mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar menyertai mereka.
Pengalaman ini sebenarnya melambangkan kondisi rohani manusia. Manusia tidak hanya haus secara fisik. Manusia juga memiliki dahaga rohani yang sangat dalam. Dahaga akan: kasih, kedamaian, ketenangan, keadilan, kebahagiaan dan makna hidup. Namun sering kali manusia mencoba memuaskan dahaga itu dengan hal-hal duniawi: kekayaan, kekuasaan, kesenangan, atau keberhasilan. Sayangnya semua itu tidak mampu memuaskan dahaga terdalam manusia.
Injil hari ini menggambarkan hal ini melalui kisah perempuan Samaria. Perempuan itu datang ke sumur untuk mengambil air, tetapi dalam hidupnya ia sebenarnya sedang mengalami dahaga yang jauh lebih dalam. Yesus melihat dahaga itu dan berkata kepadanya: “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Air hidup yang dimaksud oleh Yesus adalah rahmat Allah yang menghidupkan jiwa manusia. Ketika seseorang menemukan Tuhan, hatinya menemukan kedamaian yang sejati. Santo Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Artinya Tuhan sendiri hadir dalam hidup kita untuk memberi kehidupan baru.
Ada seorang pria yang sangat sukses dalam pekerjaannya. Ia memiliki banyak uang, rumah yang besar, dan segala fasilitas yang diinginkan banyak orang. Namun suatu hari ia berkata kepada seorang temannya: “Saya memiliki hampir semua yang saya inginkan, tetapi saya tetap merasa kosong di dalam hati.” Temannya kemudian berkata kepadanya: “Mungkin hatimu haus akan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.” Kata-kata itu membuat pria itu mulai mencari makna hidup yang lebih dalam. Ia mulai kembali kepada Tuhan dan menemukan kedamaian yang selama ini ia cari.
Kisah ini menunjukkan bahwa manusia sering mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Hanya Tuhan yang dapat memuaskan dahaga terdalam manusia. Injil hari ini adalah salah satu kisah yang sangat indah tentang perjumpaan manusia dengan Tuhan.
Perempuan Samaria datang ke sumur untuk mengambil air, tetapi ia pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman perjumpaan dengan Yesus. Yesus tidak hanya memberi air, tetapi Ia menawarkan air hidup.
Air hidup ini melambangkan rahmat Tuhan yang memberi kehidupan baru. Dalam hidup kita semua juga ada banyak dahaga: dahaga akan cinta, dahaga akan pengakuan, dahaga akan kebahagiaan dahaga akan makna hidup. Namun sering kali kita mencari pemenuhannya di tempat yang salah. Yesus mengajak kita untuk datang kepada-Nya. Ia berkata: “Jika engkau tahu tentang karunia Allah, engkau akan meminta kepada-Ku.”
Prapaskah adalah waktu untuk kembali kepada sumber kehidupan itu. Yesus ingin memperbarui hidup kita. Ia ingin mengubah hati kita seperti Ia mengubah hidup perempuan Samaria. Perempuan itu akhirnya menjadi saksi bagi banyak orang. Ia memberitakan bahwa ia telah menemukan Mesias. Demikian juga kita dipanggil untuk menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga melalui perayaan Ekaristi ini kita semakin merasakan kehadiran Tuhan yang menghidupkan jiwa kita. Amin.


