KITAKATOLIK.COM—Saat imam mengangkat hosti dan kemudian piala berisi anggur saat konsekrasi, apa yang seharusnya dilakukan oleh umat? Tentu ini sebuah pertanyaan tua, yang dalam prakteknya punya jawaban beragam alias tak seragam.
Umumnya, saat imam mengangkat hosti, kebanyakan umat langsung membungkuk dan mengangkat tangan terkatubnya melewati kepala, ekspresi penyembahan. Demikian pula saat imam mengangkat piala. Ada juga yang membuat tanda salib. Yang lain lagi membungkukkan badan sambil berdoa, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Betulkan sikap, doa dan gerak tubuh yang demikian?
Menjawab pertanyaan itu, kita perlu melihat dengan cermat apa yang dilakukan imam saat konsekrasi.
Saat imam mengucapkan kata-kata pada Kisah Institusi, Imam memperlihatkan Hosti Suci kepada umat, lalu meletakkannya kembali pada petena, kemudian berlutut menyembahNya. Sesudahnya, imam memperlihatkan piala kepada umat, lalu meletakkannya di atas korporale kemudian berlutut menyebahnya.
Jadi ada dua hal yang dilakukan imam: Mengangkat (hosti dan piala berisi anggur) dan berlutut menyembah. Lalu apa yang harus dilakukan umat saat paling kudus tersebut?
Begini. Saat imam memperlihatkan Hosti atau piala kepada umat pada saat konsekrasi itu, sikap umat adalah memandangnya dengan khidmat dan yakin dengan sungguh bahwa hosti dan anggur itu benar-benar adalah tubuh dan darah Kristus. Dan ketika imam berlutut menyembahNya, umat menghormatiNya dengan membungkuk khidmat.
Sekali lagi, ketika imam mengangkat hosti dan anggur, umat memandang dengan hikmat dan percaya. Ketika imam berlutut menghormati hosti dan anggur, umat membungkuk dengan hikmat sambil mengatubkan tangannya.
Jangan sebaliknya, saat hosti dan piala berisi anggur diangkat, umat membungkuk sementara ketika imam berlutut, umat berdiri tegak.

Menurut Sekretaris Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia RP Riston Situmorang OSC, tindakan liturgis yang betul saat imam mengangkat Hosti dan Piala berisi anggur, adalah melihat dan percaya bahwa hosti dan anggur itu adalah benar-benar Tubuh dan Darah Kristus.
“Imam mengangkat tubuh dan piala berisi anggur supaya umat melihat dengan percaya. Jadi tindakan liturgis yang tepat adalah melihat dan percaya bahwa itu adalah Kristus,” kata ahli liturgi lulusan Universitas Anselmo, Roma ini dalam Seminar Liturgi yang digelar di Paroki Curug-Santa Helena pada Mei 2024 yang lalu. (Admin).


