Dirayakan Minimal Tiap Minggu, Ini Enam Makna Penting Ekaristi

TANGERANG,KITAKATOLIK.C0M—Minimal sekali seminggu, umat Katolik merayakan Ekaristi secara bersama-sama di gereja atau tempat lain yang diperuntukan sebagai tempat ibadah resmi Katolik. Bila memungkinkan, umat juga diajak untuk mengikuti misa harian.

Pasalnya, seperti ditegaskan Lumen Gentium Art 11, Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan kristiani karena Kristuslah yang hadir dalam Ekaristi dan karena dalam Ekaristi kita dapat bersatu dengan Kristus Tuhan kita.

Lalu apa makna Ekaristi sebetulnya? Dalam Seminar Liturgi yang digelar pada 23 Mei 2024 yang lalu,  Pastor Riston Situmorang OSC, Sekretaris Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyebut enam makna utama Ekaristi. Apa saja itu?

Pater Riston Situmorang, OSC, Sekretaris Komisi Liturgi KWI.

Pertama, Ucapan Syukur. Makna pertama ini mengacu pada asal kata Ekaristi yaitu  “eucharistein” yang berarti ucapan terima kasih kepada Allah.  (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)

Kedua, Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).

“Ingat, kata kuncinya adalah Perjamuan Tuhan. Bukan perjamuan imam, kadang imam dianggap lebih utama. Kalua romo N pasti umat senang. Lalu banyak umat yang hadir. Kalua romo X, umat itdak hadir. Karena mereka berpatokan bahwa ini perjumuan imam, bukan perjamuan Tuhan,” kata pastor Riston.

Dia mengingatkan, saat pastor merayakan Ekaristi, dia adalah Kristus yang merayakan Perayaan Ekaristi. Dia adalah Tuhan. Kadang orang datang misa karena homili romonya. Tapi ingat, kalau  homili romonya bagus, ingat bahwa dia in persona Christi karena Kristus sendiri yang bersabda.

Ketiga, Kenangan akan Sengsara dan Kebangkitan Tuhan. (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Keempat, Kurban Kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368).

Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).

Kelima, Komuni Kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).

Keenam, Misa Kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi mau Ekaristi, mau Misa Kudus, sama saja artinya. Ekaristi itu dimensi ucap syukurnya, sementara misa itu dimensi pengutusannya yang diutamakan,” kata pastor Riston. (Pmg).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *