Jumat (21-2-2025): Pikullah Salibmu dengan Setia dan Beranilah Menjadi SaksiNya! (Markus 8: 34-9:1)

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya   dan mengikut Aku.   Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. 

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.  Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?  Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku   di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun  akan malu karena orang itu   apabila Ia datang kelak   dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” 

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.” (Markus 8: 34-9:1).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku!” kata Yesus kepada orang banyak dan murid-muridNya. Pernyataan itu, seperti termuat dalam Injil kemarin, ditolak oleh Petrus. (Markus 8: 34).

Beriman kepada Tuhan Yesus adalah penyerahan diri dan hidup kepada Tuhan secara utuh dan sempurna.  Salib dan penderitaan, bahkan kematian adalah jalan Yesus, bagian yang tidak bisa dihindari dari mengikuti Tuhan. Itulah jalan Yesus.  Itulah jalan kita: Jalan Salib!

Yesus mengajak kita dalam Injil hari ini untuk tetap tegar, kuat dalam menapaki jalan salib dan menghadapi salib-salib hidup kita, dalam menghadapi tantangan dan pencobaan hidup serta kesulitan dan persoalan hidup.

Yesus memanggul Salib ke Gunung Golgota,  jatuh tiga kali,  bangun lagi,  dibantu Simon dari Kirene, teruskan perjalanan SalibNya dan tiba juga di puncak Golgota. Kita juga memikul salib kita,  jatuh mungkin ribuan kali,  tapi harus bangun ribuan kali lagi,  dibantu oleh “Simon Kirene-Simon Kirene”  di sekitar kita, dan oleh Tuhan sendiri untuk teruskan perjalanan kita yang banyak memikul salibnya.

Tuhan memberi “salib” kepada kita tidak  melampau atau melebihi kekuatan atau kemampuan kita untuk memikulnya. Tuhan juga bantu pikul. Banyak Simon dari Kirene jaman kini yang bantu pikul.

Karena itu kuatkanlah jiwa raga kita, dan teguhkanlah iman kita kepada Tuhan. Tuhan selalu menyertai kita saat ini di sini apapun keadaan. Selamat menapaki jalan salib kita!  Selamat menghadapi salib hidup kita! Selamat memikul salib hidup kita! Kebangkitan dan kehidupan baru, sukacita dan kebahagiaan menantikan kita yang bertahan.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus  membantu dan (+) memberkati kita sekalian yang tetap kuat dan teguh dalam mengikuti Yesus dan  memikul “salib hidup” dalam hidup ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *