Minggu (31-8-2025): Jalani Hidup dalam Semangat Rendah Hati! (Lukas 14: 1.7-11)

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi  untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati  Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat  kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu.

Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.  Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.  

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan  dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14: 1.7-11).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

“BARANGSIAPA meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri,  ia akan ditinggikan!” kata Yesus kepada orang banyak dalam Injil hari ini (Lukas 14: 11).

Dunia mengukur baik-buruknya hidup,  kehormatan, kehebatan seseorang  dengan melihat  berapa banyak yang bisa dikumpulkan: harta milik, rumah,  tanah,  kendaraan,  uang,  berbagai jenis kekayaan, pangkat, jabatan, status,  dan lain-lain untuk diri sendiri.

Kristus mengukur atau melihat yang  sebaliknya: berapa banyak yang bisa diberikan, dilepaskan, dibagikan dari yang “dimiliki” demi Tuhan dan hidup orang banyak dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Jika seseorang  ingin mencari tempat yang terhormat menurut ukuran Kristus maka kita  justeru harus memilih “jalan rendah hati”. Kita memosisikan diri sebagai orang yang memiliki semangat, sikap, kebiasaan, spiritualitas hidup yang rendah hati.

Seorang yang rendah hati  memosisikan “yang lain” (Tuhan dan orang lain, lingkungan alam ciptaan lainnya) lebih utama, lebih terhormat daripada diri sendiri. Memberi tempat terhormat untuk yang lain. Mengutamakan yang lain. Melayani yang lain, bukan dilayani. Memberi yang terbaik dan terindah untuk yang lain. Membahagiakan yang lain. Ini sikap rendah hati yang ditawarkan Yesus kepada kita.

Hadiah istimewa akan kita terima sebagai “bonus sikap rendah hati”:  dihormati, ditinggikan, merasa bahagia. Tuhan sebagai tuan rumah akan mendatangi kita dan menyebut kita  sebagai sahabat istimewaNya yang harus duduk di barisan terdepan. Kita yang rendah hati akan disayangi Tuhan dan orang lain.

“Apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang kepadamu dan berkata: Sahabat, silahkan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain!” kata Yesus dalam perumpamaan Injil hari ini (Lukas 14:10).

Bunda Maria adalah tokoh teladan bagi kita dalam sikap dan semangat dan “jalan” rendah hati. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!” Selamat menjadi orang yang rendah hati dengan melayani.

Semoga dengan bantuan Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang selalu menjadi orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *