Dipimpin Uskup Larantuka, Puluhan Imam Menjadi Konselebrans Misa Pemakaman Romo Adu Kerans

LARANTUKA,KITAKATOLIK.COM—Dipimpin langsung oleh Mgr. Frans Kopong Kung, puluhan imam ikut menjadi konselebrans Perayaan Ekaristi pemakaman Romo Bernardus Bala Kerans Pr, Jumat siang (15/7/2022) di Katedral Larantuka, Flores Timur, NTT. Mereka menghantar kembali rekan imamnya ke pangkuan Bapa di Sorga.

Sehari sebelumnya, Romo Adu, begitu Pastor Bernardus Bala Kerans Pr biasa disapa, meninggal dunia, sendirian dalam tidurnya karena penyakit jantung yang telah beberapa tahun dideritanya. Bulan Juni lalu, kelahiran Lewolere, Larantuka,  10 Juni 1959, ini sempat ke Jakarta untuk melakukan pemantauan kesehatannya di Rumah Sakit Carolus, Jakarta.

Kembalinya ke Rumah Bapa yang tiba-tiba ini, sontak mengagetkan banyak pihak. Tapi sebagai umat berima, kita harus menerimanya sebagai bagia dari penyelenggaraan Ilahi. Uskup Keuskupan Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung misalnya menegaskan bahwa berpulangnya romo Adu mungkin mengejutkan, tapi pas waktunya.

Berpulangnya Romo Adu, menurut Uskup, mengekspresikan kebenaran makna perikope Filipi 1: 21-22, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.”

Romo Bernardus Bala Kerans

“Selama hidupnya, dia telah mengabdikan diri secara total sebagai imam dalam melayani umat. Juga sebagai seorang deken yang bersama dengan teman imam senantiasa menjalankan tugas kebersamaan dalam satu persekutuan rekan iman. Bersama rekan imam lainnya, ia  telah memberikan banyak buah  kepada umat, kepada gereja, khususnya keuskupan Larantuka,” kata Uskup dalam kothbahnya.

“Kematiannya adalah keuntungan bagi dia. Karena yang memanggil dia adalah Tuhan, jalan kebebenaran dan kehidupan. Tuhan Imam Agung yang selama hidupnya, Romo Adu mengambil bagian di dalam imamat yang berasal dariNya.  Saat ini,  Tuhan telah  menyempurnakan, memenuhi hambaNya untuk bersatu penuh dengan Dia, Imam Agung dalam kehidupan yang abadi,” tambah Uskup.

Sebagai Imam Agung, lanjut Uskup  Frans, Yesus  telah datang menjemput karena Dia menghendaki setiap pelayananNya harus berada di tempat di mana Dia berada. Saat ini Romo Adu Kerans telah berada di tempat di mana Tuhan ada.

“Kesedihan dirubah jadi sukacita,  jadi kegembiraan iman  karena dia adalah salah satu dari biji gandum Tuhan yang telah jatuh, mati. Menghasilkan buah-buah bagi gereja lokal, bagi  setiap kita yang mengenal dan mengasihi Dia,” terang Uskup.

BACA JUGA:  Deken Larantuka Romo Bernardus Bala Kerans, Pr, Tutup Usia https://www.kitakatolik.com/deken-larantuka-romo-bernardus-bala-kerans-pr-tutup-usia/

Lintas agama

Selain puluhan pastor, biarawati dan ribuan umat Katolik, umat lintas agama turut mengikuti prosesi pemakaman Ketua Komisi Kerasulan Awal Keuskupan Larantuka yang juga dipercaya sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat  Beragama Kabupaten Flores Timur ini.

Romo Adu merupakan anak pertama dari lima bersaudara dan berasal dari Paroki Santo Ignatius Waibalun, Larantuka. Tidak seperti imam lainnya, panggilan untuk menjadi imam-nya boleh dibilang “terlambat”. Tak seperti riwayat panggilan imam lainnya, yang segera masuk SMP atau SMA Seminari.

Sebelum ke Semiari, romo Adu sempat belajar di Sekolah Pendidikan Guru  (SPG) Podor, tamat  Juli 1979.  Dilanjutkan ke  Fakultas Keguruan dan Ilmu  Pendidikan (FKIP) Undana, Kupang, tamat Juli 1982. Ganti menjadi guru, ia malah memilih masuk  seminari dengan mengikuti Kelas Persiapan Atas (KPA) di Seminari Sant Dominggo, Hokeng, Flores Timur.

Selesai KPA, ia masuk ke Tahun Rohani (TOR) Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret tahun 1983 bersama Uskup Atambua Dominikus Saku dan Uskup Maumere Ewaldus Martinus Sedu.

Tanggal 4 September  1992, ia ditahbiskan bersama ke-10 rekan lainnya, termasuk deken Adonara RD. Lazarus Laga Koten dan deken Lembata RD Philipus Dagomez.

“Terima kasih. Kamu telah berbuat banyak untuk keuskupan. Juga telah meninggalkan kenangan, kesaksian dari kehidupanmu yang juga menyenangkan semua kami. Pergaulanmu, tutur katamu yang senantiasa merangkul, memberikan perhatian kepada banyak orang, termasuk teman imammu. Kamu selalu peka, setia melayani,” kata Uskup Frans dalam sambutannya. (Admin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *