“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Matius 5: 20-26).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
SATU CIRI khas Retret Agung atau Masa Prapaskah adalah membina sikap tobat: bertobat, pertobatan; kembali ke jalan yg baik dan benar (metanoia). Bertobat berarti “seorang anak” (kita) mendekati Bapanya dan mendekatkan diri kepada Bapanyam, berdamai dan bersukacita dengan Bapanya. Kalau sudah mendekati bahkan bersatu dengan Bapanya, seorang anak akan hidup damai, hidup tenang, aman dan penuh sukacita.
Hidup damai (tenang, tenteram, bahagia, gembira, aman) adalah dambaan, kerinduan, harapan setiap orang (kita). Kedamaian hidup yang dirindukan itu, sumbernya dalam hatinya, tidak berada di luar hai, diri dan hidup setiap orang (kita). Apakah kita menyadari hal ini? Mungkin saja kita mencari damai atau kedamaian itu di luar diri, di luar hati sendiri. Bahkan mencari sedemikian rupa lewat cara-cara negatif dan merusak dirinya. Sangat disayangkan kalau yang terjadi seperti itu.
Dalam Injil hari ini, Yesus menekankan hati yang damai. “Jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah (altar) dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkan persembahan di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu!” (Matius 5:23-24).
Penting berdamai. Berdamai dengan Tuhan. Berdamai dengan orang lain. Teristimewa berdamai dengan hati dan diri sendiri! Segala hal yang mengganggu kedamaian hati (dosa dan kesalahan) “dibereskan” dengan sikap tobat hati, kembali ke jalan yang baik dan benar!
Terimalah Sakramen! Sakramen Tobat! Datanglah ke “tempat pengakuan”! Di sana (tempat perdamaian antara kita dengan Tuhan, dan orang lain yang dirugikan karena dosa dan kesalahan kita). Dosa dan kesalahan yang membebankan yang diakui secara jujur itu akan dihapuskan oleh Tuhan Allah! Terutama datanglah menerima Sakramen Ekaristi (Misa Harian – fakultatip dan wajib Misa Hari Minggu) karena di sana dosa dan salah pasti dihapuskan oleh Yesus Kristus melalui Tubuh dan DarahNya. Maka kita boleh menikmati damai dan bahagia dlm hidup.
Selamat berdamai dengan Tuhan dan orang lain! Selamat berdamai dengan hati dan diri sendiri saat ini di sini. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang mau hidup dalam damai dg Tuhan, sesama dan diri sendiri. Amin.


