Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Lukas 9: 22-25).
Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
MEMBERI diri bagi Tuhan dan sesama serta lingkungan alam ciptaan lainnya! Itulah pesan Tuhan untuk kita dalam retret agung ini (masa Pra Paskah ini). “Setiao orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku!” kata Yesus kepada murid-muridNya, juga kepada kita. (Lukas 9: 23). Kita memberi diri (yang terbaik dan terindah ) bagi Tuhan dan sesama serta lingkungan alam ciptaan lainnya.
KUALITAS hidup yang dituntut dari setiap murid Yesus (kita) adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikutiNya. Secara sederhana, menyangkal diri berarti tidak ingat diri, melupakan diri sendiri, tidak egois, atau egosentris. Berarti harus ingat atau utamakan orang lain, memperhatikan kepentingan bersama atau umum.
Memikul salib berarti menyatukan atau mengintegrasikan “suka duka” hidup pada salib Yesus. Di sini ada makna positip dari setiap salib, penderitaan, duka hidup kita. Yesus sendiri saja mengikuti jalan salib, memikul salib, jatuh 3 kali di jalan salib, dan mati di salib, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Ini bukan hoax.
Kita memaknai Masa Prapaskah (retret agung) ini dengan belajar mengikuti cara hidup Yesus yang selalu memberi diri bagi sesama: Memberi kasih, perhatian, kepedulian, solidaritas dan keadilan. Inilah cara kita mengisi hari-hari kita dalam retret agung selama Masa Prapaskah ini: Fokus memberi diri (yang terbaik dan terindah) bagi Tuhan dan orang lain. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya (hidupnya) untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13).
Selamat memberi yang terbaik dan terindah untuk “yang lain”. Selamat fokus kepada “yang lain”: Tuhan, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya! Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang siap fokus memberi diri yang terbaik dan terindah bagi Tuhan, orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.


