Pada waktu itu, ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, katanya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.
Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu.
Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melawati engkau.” (Lukas 19: 41-44).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
KEPEDULIAN dan pemberian diri sekecil apapun memberikan kebahagiaan untuk yang lain (sesama, lingkungan alam ciptaan lainnya). Semangat berbagi dan peduli bukanlah tindakan yang diberikan karena kelebihan yang ada pada diri kita, tetapi dalam segala kekurangan atau keterbatasan dan kesederhanaan hidup, kita pun dapat memberikan “sesuatu” (kebahagiaan, perhatian, kebaikan, solusi; tidak mesti uang/materi) kepada orang lain yang lebih membutuhkan dan lebih berkekurangan dari kita.
Yesus mengajarkan sikap dan semangat “berkorban”, sikap kepedulian yang lahir dari ketulusan dan kesederhanaan untuk mau memberi dan berbagi dan berbela rasa. Mau berkorban untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Berkorban untuk beri yang terbaik dan terindah untuk orang lain. Mau Peduli dan berkorban untuk “damai sejahtera kita”.
Ketika Yesus telah dekat Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya dan berkata: “Wahai Yerusalem, betapa baiknya jika hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” (Lukas 19:41). Apa yang perlu untuk damai sejahtera kita? Pengorbanan, kepedulian dan pemberian diri kepada Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya.
Dalam situasi masyarakat dewasa ini, sikap dan semangat mau berbagi dan peduli dengan orang lain hendaknya menjadi sikap dan semangat yang mesti dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap demikian hendaknya lahir dari sikap beriman dan setia kepada Yesus, Anak Domba Allah, yang telah “berkorban” untuk kita, telah menyucikan kita dengan darahNya yang kudus. Karena itu, segala kelekatan dan cinta diri dienyahkan agar dapat memperoleh “hidup baru” sebagai pengikut yang telah ditebus oleh Yesus Kristus.
Selamat berkorban. Selamat peduli dengan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Selamat berbagi dengan sesama! Selamat beri diri bagi yang lain: Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya.
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang peduli dan beri diri bagi Tuhan dan sesama lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.


