Minggu (28-10-2025): Rendah Hatilah, Apalagi di Hadapan Tuhan! (Lukas 18: 9-14)

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.  

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18: 9-14).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

“YA ALLAH, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Lukas 18:13) adalah doa orang berdosa (pemungut cukai,  kita)  sebelum memohonkan rahmat dan berkat dari Tuhan Allah. Penyumbat rahmat dan berkat (dosa dan kesalahan kita) dimohon untuk dibuka atau dihapuskan agar doa/intensi: syukur dan mohon rezeki apa saja (rahmat dan berkat Tuhan – sesuai kebutuhan dan harapan kita) dikabulkan.

Manusia melihat perbuatan, Tuhan Allah melihat hati. Sering kita merasa  aman dan berpikir mempunyai hak menuntut agar diberi apa saja yang kita inginkan karena kita merasa sudah berbuat baik, sudah berjasa, sudah berkorban dan lain-lain seperti itu. Katakan saja sudah “tanam jasa” seperti misalnya aktip doa,  misa,  amal kasih,  retret,  ziarah,  dan lain-lain.

Ketika yang kita inginkan itu tidak terwujud, kita menjadi kecewa,  frustrasi,  stress berat, bahkan sampai-sampai ada yang mempersalahkan Tuhan, mengatakan “Tuhan tidak adil”,    “memusuhi” Tuhan, (tidak ikut misa harian,  mingguan atau kegiatan gerejani lainnya).

Dalam bacaan Injil hari ini (Lukas 18:9-14) tampak jelas bahwa Tuhan Allah yang Mahakuasa tetap bebas mengambil sikap. Tuhan Allah tidak dipengaruhi oleh “laporan” jasa-jasa dan pengorbanan kita. Tuhan Allah lebih melihat sikap hati kita yang menyadari diri sebagai seorang pendosa di hadapanNya dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya!

Ada unsur rendah hati dan jujur atau tidak Yang diharapkan adalah rendah hati dan jujur!   Mengakui dosa dan kesalahan dengan  tulus dan jujur.  “…Tetapi si pemungut cukai itu (mestinya kita juga) berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan memukul dirinya dan berkata: “Ya Allah,  kasihanilah aku orang berdosa ini!”  (Lukas  18:13).

Itulah ungkapan hati  yang  baik dan benar; ungkapan hati yang tepat; ungkapan hati yang rendah hati dan jujur berhadapan dengan Tuhan Allah dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Kita beriman dan berdoa secara baik dan benar apabila kita hanya mengandalkan Tuhan, bukan pada “jasa dan kehebatan” diri kita sendiri. Kita membiarkan Tuhan Allah sebagai subyek penentu yang memimpin dan menentukan hidup kita.  Itulah sikap beriman yang benar kepda Tuhan Allah dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Wajib mengikuti Penerimaan Sakramen Ekaristi (perayaan Ekaristi/Misa) Hari Minggu dan/atau Misa Harian (fakultatif) adalah pengejawantahan sikap rendah hati dan jujur berhadapan dengan Tuhan Allah, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Di sana ada penghapusan dosa. Di sana kita dibenarkan oleh Tuhan Allah dengan Tubuh dan DarahNya.

Selamat beriman yang benar.  Selamat bersikap rendah hati dan jujur. Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria dan Santo Yosef, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  sekalian yang bersikap rendah hati dan jujur di hadapan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *