TANGERANG,KITAKATOLIK.COM–Perayaan Tahun Baru Imlek di kompleks persekolahan Tarakanita Citra Raya, Tangerang, Jumat (20/2/2026), tampil berbeda. Tidak sekadar kemeriahan barongsai, ratusan siswa dari jenjang KB hingga SMA memadukan tradisi budaya dengan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui pengolahan sampah organik menjadi ecoenzyme.
Aksi ini digelar bertepatan dengan momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berupaya menanamkan kesadaran bahwa harapan baru yang disimbolkan dalam Imlek harus diwujudkan melalui tanggung jawab menjaga bumi.
Simbol Harapan dan Keberuntungan
Kepala KB-TK Tarakanita Citra Raya, Cicilia Dewi Wulandari, menjelaskan bahwa integrasi perayaan Imlek dengan HPSN merupakan bentuk refleksi bersama. Menurutnya, peduli terhadap lingkungan sekolah yang dianggap sebagai “rumah kedua” adalah langkah awal menanam benih kebaikan.

“Imlek hadir sebagai simbol harapan baru yang sejalan dengan semangat Hari Peduli Sampah Nasional. Dengan peduli terhadap sampah di sekitar sekolah, kita sebenarnya sedang menanam benih keberuntungan,” ujar Cicilia di sela-sela kegiatan.
Melampaui Pentas Seni
Rangkaian acara dimulai pukul 07.00 WIB di Aula SMP Tarakanita Citra Raya dan disiarkan secara langsung melalui kanal live streaming. Kemeriahan dibuka dengan penampilan siswa KB dan kreativitas lintas jenjang hingga SMA, yang memuncak pada atraksi barongsai.

Namun, esensi perayaan berlanjut pasca-seremonial. Seluruh siswa segera bergerak menyisir area kelas hingga lingkungan luar sekolah untuk memungut dan memilah sampah. Meski hujan mengguyur sejak pagi dan membuat kondisi sampah menjadi basah, antusiasme siswa tidak surut dalam melakukan pembersihan massal.
Edukasi Ecoenzyme
Di bagian lain, sejumlah siswa mempraktikkan pembuatan ecoenzyme dari limbah organik sisa rumah tangga dan kantin. Proses ini menjadi sarana edukasi konkret mengenai ekonomi sirkular dan pengurangan beban limbah di tempat pembuangan akhir.

Pengolahan sampah menjadi cairan serbaguna ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di Tarakanita tidak hanya berhenti pada teori di dalam kelas, tetapi diwujudkan dalam pembiasaan dan keteladanan.
Hari Peduli Sampah Nasional sendiri diperingati setiap 21 Februari sebagai pengingat pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara perayaan budaya dan aksi ekologis, generasi muda diharapkan menjadi kunci perubahan perilaku dalam menghadapi tantangan sampah perkotaan di masa depan. (Yohanes Yondi Pangestu, S.M.).

