Peringati Sumpah Pemuda, Mahasiswa Berjanji Jaga Kerukunan dan Lawan Radikalisme

KITAKATOLIK.COM.—Berkaitan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-89, para mahasiswa dari berbagai universitas di Semarang mendeklarasikan tekad mewujudkan keluarga bangsa yang utuh dan menolak keras radikalisme.

“Tanah airku, Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di hadapan bendera merah putih,kami pemuda-pemudi bersatu, bersepakat dan  bertekad: Satu, menjadi keluarga bangsa yang utuh demi terwujudnya kesatuan dalam keberagaman suku, ras, agama dan budaya. Dua, menjaga kerukunan dalam menghadapi masalah radikalisme yang muncul di sekitar kita. Tiga, mewujudkan kembali semangat persatuan demi peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya; 100% religius, 100% nasionalis,” tekad mereka yang dibacakan secara bersama-sama.

Deklarasi tersebut digaungkan di Kampus Unika Soegijapranata Semarang, Senin (30/9/2017). Selain para mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata, hadir juga perwakilan dari Universtas

Wahid Hasyim (Unwahas), UIN Walisongo, dan Universitas Negeri Semarang (Unes). Komunitas lintas agama yang ada di Semarang turut serta, seperti Pelita, PGN (Pasukan Garuda Nusantara), dan dari unsur Konghucu serta Buddha (Hikmabuddi).

Ketiga point ikrar tersebut diserukan pada saat talk show yang diselenggarakan kampus Unika Soegijapranata di Gedung Teater Thomas Aquinas. Talk show mengambil tema “Kebangsaan di Dadaku, Kami Satu Indonesia.” Deklarasi tersebut diserukan di penghujung acara.

Tedi Kholiludin, Dea Rizkita dan Romo Budi

Tiga orang narasumber dihadirkan dalam talk show yakni Dea Rizkita, Tedi Kholiludin PhD, dan Romo Aloys Budi Purnomo Pr. Para narasumber dipandu oleh Awang sebagai moderator. Ketiga narasumber menyampaikan pandangan dan pengalaman masing-masing terkait dengan kebangsaan dan keberagaman.

Dalam suasana yang cair, penuh canda, namun dalam keseriusan, para narasumber membagikan pandangan dan pengalaman masing-masing sesuai dengan latar belakang dan kompetensinya. Dea, sebagai Putri Perdamaian 2017, mendorong kaum muda dan mahasiswa untuk berani menjadi motor penggerak perdamaian. Tedi Kholiludin mengajak semua untuk menanggalkan cara pandang sempit dan membuka diri bagi kepentingan yang lebih besar untuk bangsa. Sementara Romo Budi memotivasi para peserta dengan segala kemungkinan dan cara pandang positif untuk merajut persaudaraan dan semangat kebangsaan melalui silaturahmi dan perjumpaan. (Admin/ABP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *