Selasa (21-1-2024): Ingat, Hukum Ada untuk Manusia, Intinya adalah Cinta! Jangan Lindas Cinta demi Hukum! (Markus 2: 23-28)

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.  Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 

Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar  lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan  kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” 

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia  dan bukan manusia untuk hari Sabat,  jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Markus 2: 23-28).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki  Wangkung, Keuskupan Ruteng.

HIDUP kita tidak terlepas dari aturan, hukum, ketetapan, undang-undang. Aturan dibuat untuk menciptakan ketenteraman, kedamaian, keteraturan, kebahagiaan, keselamatan, kebaikan umum. Berarti demi keselamatan hidup manusia dan lingkungan alam ciptaan lainnya dan demi cinta kepada manusia dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Hanya terkadang aturan dipergunakan salah atau disalahtafsir, sehingga hakikat terdalam seperti disebutkan di atas menjadi hilang,  bahkan malah “kelihatannya seperti bertentangan dengan kebaikan umum dan keadilan”.

Aturan Sabat dibuat pasti demi keselamatan hidup manusia dan cintakasih. Dalam Injil hari ini dikisahkan “protes” yang dilancarkan oleh orang Farisi  atas apa yang dilakukan murid-murid  Yesus pada hari Sabat (memetik bulir gandum). Mereka memandang bahwa hal itu bertentangan aturan Sabat. “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” kata orang Farisi kepada Yesus. (Markus 2:25).

Mereka tidak salah. Aturan mainnya begitu. Murid-murid Yesus juga tidak salah (mereka lapar). Yesus juga tidak mempersalahkan mereka. Mereka melihat aturan demi aturan.  Mereka tidak sampai pada kedalaman dan hakikat dari aturan itu. Yesus memberi pencerahan kepada orang Farisi  tentang hakekat terdalam sebuah aturan.  Aturan demi keselamatan dan cinta kasih. Hidup manusia dan  lingkungan alam ciptaan lainnya dan cinta kasih berada di atas aturan. Aturan tetap ada dan harus ada.

Yesus tidak mengajak kita untuk melawan,  melanggar bahkan menghapuskan aturan yang ada (ketetapan pastoral,  ketetapan gereja), melainkan melihatnya dalam praksis keseharian “makna terdalam” dari aturan itu. Ia mengajak kita (sebagai gembala atau domba) untuk melihat dengan hati  bahwa keselamatan hidup manusia dan lingkungan alam ciptaan lainnya dan cintakasih harus dipertimbangkan baik-baik.

Dan inilah yang pada jaman kini dinamakan “kebijaksanaan atau pertimbangan pastoral”, kebijaksanaan yang hanya ada dalam hati pastor, dan hanya oleh pastor,  berdasarkan pertimbangan tertentu yang ada dalam hatinya. Dan inilah yang diambil oleh Yesus ketika berhadapan dengan  orang Farisi yang protes kepadaNya. Tapi perlu diingat, kebijaksanaan pastoral itu momental/situasional  saja sifatnya,  bukan “ketetapan/aturan pastoral”. Jangan ada kesan,  ketetapan-ketetapan  pastoral (aturan-aturan yang ada) semuanya menjadi “kebijaksanaan pastoral”.

Selamat melaksanakan ketetapan (aturan) pastoral dengan gembira hati dan kalau “sangat perlu” barulah berlakukan  kebijaksanaan pastoral.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita semua yang menghayati ketetapan dan/atau kebijaksanaan pastoral dalam kehidupan keagamaan/menggereja dan melaksanakannya dengan gembira hati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *