Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.
Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Lukas 10: 17-24).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
STATUS, pangkat, jabatan, kedudukan, posisi menjadi bahan pembicaraan di antara para murid Yesus, walaupun Yesus sudah sering bicara bahkan mempraktekkan kasih dan pelayanan (mengasihi dan melayani) kalau mau menjadi yang terbesar, terdepan dalam Kerajaan Allah. Namun semuanya itu tidak masuk dalam pikiran dan hati mereka.
Yesus menjawab pertengkaran atau ambisi mereka akan kuasa, pangkat, jabatan, harta, dan lain-lain semacam itu dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka; anak kecil yang tidak berdaya, tidak punya kuasa, posisi, jabatan, dan yang tidak punya ambisi.
Dalam Injil hari ini, semua ambisi duniawi itu dikalahkan oleh protocol anak kecil/saudara, kasih dan pelayanan. Seorang anak kecil mudah percaya kepada orangtuanya; mudah memaafkan; tidak menyimpan rasa dendam berkepanjangan; sangat bergantung kepada orangtuanya; selalu mau dekat dan bersatu dengan orang tuanya, berlaku/bersikap baik-baik saja dengan yang lain.
Yesus mengajak kita untuk menggunakan, memakai, mempraktekkan protokol anak kecil atau “saudara”, protokol kasih dan pelayanan yang tulus, jujur, dan rendah hati. Kasih dan pelayanan yang sepenuh hati mesti dihayati dan dipraktekkan.
Kita perlu belajar dari anak kecil, yang polos, jujur, dan pasrah penuh cinta kepada Bapa sebagai dasar untuk mengasihi dan melayani. Selamat menghayati dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria dan Santo Yosef, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita yang mempraktekkan protokol anak kecil atau “saudara”, kasih, pelayanan dan rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Amin.


