Renungan Senin, 17 Juli 2023: Ingin Berkelimpahan? Berbagilah Selalu dengan Tulus! (Matius 1: 34-11:1)

Pada suatu ketika, Yesus berpesan: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.  Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,  dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.  

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya  dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.  

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,   dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar   sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya  dari padanya.” 

Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya,   pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Matius 1: 34-11:1).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

PENGALAMAN  “kehilangan” orang terdekat, sahabat, benda-benda, dan segala sesuatu yang berharga dan disukai bahkan disayangi sangat menyakitkan. Terkadang kita  menyesali bahkan “mengutuki” diri sendiri kenapa harus merasakan dan mengalami kehilangan itu. Sungguh tidak enak memang.

Kehilangan merupakan petistiwa menyakitkan dan menjengkelkan. Tetapi “pengalaman kehilangan” membuat kita sadar dan tahu bahwa kita tidak bisa terikat terus dengan  apa yang kita  sayangi. Pengalam kehilangan semacam ini menjadi hal yang menarik karena hampir setiap orang  merasakan kehilangan sesuatu.  Tetapi, lebih menarik lagi  karena “ada sesuatu yang baru setelah kehilangan”  (ada yang baru yang dijumpai, dialami untuk menggantikan yang hilang itu).

“Barangsiapa mengasihi bapanya atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku,  ia akan memperolehnya!” (Matius 10:37-39).

Yesus mengharapkan para muridNya (kita) untuk mengerjakan mana yang mesti  dikerjakan agar  bisa lebih fokus dan menyelesaikannya  dengan baik. Kita mesti mempunyai keyakinan bahwa kita  akan memperoleh sesuatu hal yang lebih baik ketika kita  mampu dan rela meninggalkan cara hidup yang lama dan melepaskan apa yang berharga (dari kita) untuk orang lain.

Kita  tidak akan kekurangan kalau   selalu memberi dan memberi, dan terus memberi. Kita akan selalu berkelimpahan atau berkelebihan kalau selalu mau berbagi.  Dengan memberi dan berbagi,  justeru kita  akan diberi lebih banyak lagi.

“Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja (tidak banyak!) kepada salah seorang yang kecil ini (yang sangat membutuhkannya), karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya  dari padanya!” (Matius 10:42).

Selamat memberi dan berbagi dengan tulus!  Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  sekalian yang selalu siap  “memberi dan berbagi” dengan tulus hati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *