Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.
Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”
Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.
Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Lukas 7: 11-17).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
BELAS KASIHAN bisa menggerakkan seseorang untuk melakukan “hal yang luar biasa”. Belas kasihan memampukan kita untuk memberikan diri secara penuh dan total kepada pelayanan kasih. Belaskasihan juga yang menggerakkan Yesus untuk membangkitkan anak muda di Nain. Yesus tersentuh hatiNya melihat ibu pemuda itu yang menangis, meratapi anaknya yang mati itu.
Digerakkan oleh belas kasihan itu akhirnya Yesus membangkitkan anak muda itu. Sungguh tindakan Yesus ini menggembirakan si ibu dan anaknya.
Kita (sama seperti si ibu dan anaknya dlm Injil) juga sering menangis bahkan sering mengalami banyak peristiwa tragis dan “kematian” dalam tanda petik dalam hidup ini. Menangislah kepada Yesus. Datanglah kepada Yesus dalam Misa Harian (fakultatif) dan wajib Misa Hari Minggu dan Hari-hari Raya yang disamakan dengan Hari Minggu.
Tuhan Yesus akan “membangkitkan” kita yang menangis dan mengalami kematian-kematian kecil dalam hidup ini. Dia sudah, sedang dan akan membawa harapan dan sukacita dan kegembiraan bagi yang datang “menangis” kepadaNya dan sering mengalami “kematian-kematian kecil” dalam hidup ini.
Kita juga diajak untuk bersikap dan bertindak penuh belaskasihan kepada sesama. Tergerak hati terhadap sesama yang “menangis” dan mengalami “kematian-kematian kecil” karena kesulitan dan penderitaan dalam hidup ini. Kita membangkitkan iman, harapan dan kasih dari sesama yang menangis dan mengalami berbagai pengalaman tragis bahkan “kematian-kematian” kecil dalam hidup ini.
Semoga dengan bantuan doa Santa Monika, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang sering “menangis” dan mengalami “kematian-kematian kecil” dalam hidup ini. Amin.

