Jumat (20 September 2024): Nyatakan Syukurmu atas Kebaikan Tuhan dengan Melayani! (Lukas 8: 1-3)

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah.   

Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia,  dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena,   yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,  Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,   Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan   mereka. (Lukas 8: 1-3).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

DALAM Injil hari ini kita mendengar, selain para muridNya, ada juga perempuan-perempuan yang mengiringi perjalanan Yesus dan melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. Mereka “melayani, berbuat baik dan berbagi kasih” sebagai tanda syukur dan terimakasih atas Rahmat, kebaikan yang telah mereka terima dan nikmati dari Tuhan.

Banyak perempuan, banyak orang dengan aneka latarbelakang menjadi pelayan Tuhan,  melayani Tuhan dan orang lain dan alam ciptaan lainnya terdorong oleh rasa syukur atas semuanya yang telah diperolehnya dari Tuhan sendiri (pengampunan,  penyembuhan atau kesembuhan oleh Tuhan menurut bahasa Injil hari ini).

Rasa syukur adalah kekuatan dasyat  dalam diri manusia (di mana dan  dalam keadaan apa saja). Orang yang tahu bersyukur mempunyai daya tahan tinggi  terhadap penderitaan,  kesulitan dan persoalan hidup. Mempunyai kekuatan mengatasi rasa malu,  “cercaan” dari  mana. Mempunyai kesetiaan dan ketekunan dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya.

Orang yang tahu bersyukur mempunyai kerelaan untuk berkorban bahkan “dengan menggunakan kekayaan mereka sendiri” (Lukas  8:3). Lebih dari itu,  rasa syukur menjdi mata hati kita selalu untuk “melihat dan menangkap” kehadiran dan campur tangan Tuhan setiap sat dan di mana saja dalam pelayanan dan peristiwa hidup kita.

Rasa syukur yang mendalam  mengubah hati “yang egoistis” menjadi penuh cinta. Rasa syukur yang mendalam merupakan bentuk  nyata iman akan kebangkitan atau kehidupan. Di mana ada rasa syukur,  di sana ada “kebangkitan atau kehidupan”, sukacita,  kegembiraan,  kedamaian,  kebahagiaan. Keputusasaan diubah menjadi kekuatan yg berpengharapan;  keraguan menjadi kepastian; ketakutan menjadi keberanian; egoisme menjadi kerelaan berbagi dan berkorban;  duka menjadi suka;  dan lain-lain semacam itu.

Kita bersyukur selalu untuk semuanya.  Tiada saat, menit, jam,  hari tanpa bersyukur. Tiada Minggu tanpa bersyukur; Rasa syukur  mesti diwujudnyatakan dengan melayani, beri yang terbaik dan terindah, berbuat baik dan berbagi kasih bagi Tuhan dan orang lain.

Semoga dengan bantuan doa Santo Andreas Kim Tangan dan Santo Paulus Chong Ha-Sang dan kawan-kawan, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian  yang selalu bersyukur untuk semuanya dengan melayani Tuhan dan orang lain dan seluruh lingkungan hidup. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *