Rabu (16-7-2025): Jadilah “Orang Kecil” yang Hatinya Selalu Terbuka pada Kehendak Allah! (Matius 11: 25-27)

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.  

Semua telah diserahkan kepada-Ku   oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (Matius 11: 25-27).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

KESOMBONGAN adalah salah satu dari 7 dosa pokok (ketamakan, irihati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan). Kesombongan membuat orang  melupakan Tuhan dan sesama, diri sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengecam orang sombong. Ia ingin orang tetap bersikap rendah hati dan bergantung  penuh pada Tuhan; tidak menyepelekan atau mengabaikan Tuhan dalam kesibukan harian  “di sini –  saat ini.

Kata Yesus:  “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,  karena semuanya Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil!” (Matius 11:25).

Orang Farisi dan ahli Taurat yang  menganggap diri bijak dan pandai, menutup diri terhadap Tuhan Yesus, sedangkan orang kecil, seperti pemungut cukai yang rendah hati, merasa diri sebagai orang berdosa, menerima Tuhan Yesus.

“Orang kecil” adalah orang yang “merasa tak punya” apa-apa, merasa  diri sebagai orang berdosa, rendah hati dan bergantung sepenuhnya kepada “orang besar”.  Dan sesungguhnya Tuhan Allah adalah orang besar itu. Yang lain-lainnya adalah orang kecil. Semua yang kita punyai adalah milikNya, berasal dari Tuhan. Sikap kita yang benar adalah menjadi orang kecil dan rendah hati, bergantung total  kepada Tuhan sebagai “orang besar”.

Janganlah memegahkan diri di hadapan Tuhan dan orang lain! Muliakanlah Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya dalam setiap peristiwa hidup kita  “saat ini dan di sini”!  Dengan memuliakan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya sebagai “orang besar” maka kita  memuliakan diri sendiri.

Selamat menjadi orang kecil dan rendah hati di hadapan Tuhan, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya.  Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang telah menjadi orang kecil dan bersemangat rendah hati dalam hidup ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *