Rabu (23-7-2025): Jadikan Hatimu Sebagai Tanah yang Subur bagi Benih SabdaNya! (Matius 13: 1-9)

Pada suatu hari Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Yesus naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka dengan memakai perumpamaan-perumpamaan. Ia berkata, “Ada seorang penabur keluar menaburkan benih. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu burung-burung datang memakannya. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya; lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tumbuhan itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enam puluh ganda, ada yang tiga puluh ganda. Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengarkan!” (Matius 13: 1-9). 

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

PENGAJARAN Yesus dalam Injil hari ini (Perumpamaan tentang menabur benih), menggambarkan macam-macam sikap orang dalam menerima Tuhan Allah dan SabdaNya dalam hidupnya.

Pesan Injil hari ini menjadi momen baik bagi kita untuk  bertanya kepada diri sendiri: “Bagaimanakah sikap kita kemarin (hari ini dan besok) terhadap Tuhan Allah dan SabdaNya: menolakNya?  Menerima sekedar saja? Menerima dengan setengah hati? Menerima dengan sungguh-sungguh dan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan yang penuh?”

Jangan sampai Tuhan Allah dan SabdaNya mendapat tempat dalam hati kita seperti  tanah yang “berbatu-batu” karena kepala baru atau tidak peduli terhadap Tuhan Allah,  atau di “pinggir jalan” karena  “nongkrong-nongkrong” saja melihat Tuhan lewat, atau di “tengah semak duri” karena fokus pada hal-hal duniawi: “duri/semak” kekayaan,  kenikmatan,  pangkat, status, dan lain-lain kesibukan harian. Ataukah mendapat tempat di hati seperti tanah yang subur atau baik sehingga tumbuh subur,  hidup subur,  berakar kuat dan menghasilkan buah?

Tuhan menghendaki agar hidup kita berakar,  bertumbuh dan berkembang dan berbuah karena campur tangan Allah di dalamnya (karena Allah dan SabdaNya tumbuh dan mengakar dalam hidup dan karya kita). Di tengah berbagai kesibukan harian dan duniawi kita (karena banyaknya tugas dan pekerjaan),  hendaklah kita tetap ada waktu dan tempat untuk Tuhan (doa pribadi/bersama, misa harian -fakultatip,  misa Hari Minggu dan Hari-hari Raya – wajib!).

Tetaplah ada waktu  dan tempat untuk  itu!  Tetaplah ada waktu untuk  mendengarkan Tuhan,  dan merenungkan serta melaksanakan SabdaNya. Mendengarkan dan melaksanakan rencana dan kehendak Allah di tengah kesibukan kita. Tetap ada waktu untuk “menangkap dan melihat” apa yang menjadi rencana dan kehendak Allah di balik peristiwa-peristiwa hidup kita, baik peristiwa “suka” dan terutama “duka”.

Tuhan hadir dan turut campur tangan di sana. Tuhan ada bersama kita di sana. Kalau kita sungguh yakin dan percaya bahwa perjalanan hidup kita selalu bersama dengan Tuhan,  maka tidak perlu bimbang dan ragu serta takut dan panik.

Yakinlah Tuhan selalu beri yang terbaik dan terindah untuk kita. Maka janganlah menolak Tuhan!  Dengarkan Sabda dan kehendakNya!  Berjalanlah selalu bersama Tuhan! Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  yang  selalu berjalan bersama dengan Tuhan Allah. Amin!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *