TANGERANG,KITAKATOLIK.COM–Yayasan Tarakanita Wilayah Tangerang menggelar Hari Studi Guru dengan fokus penguatan implementasi Pendidikan Karakter Tarakanita (PKT) berbasis CC5+ di Aula SMP Tarakanita Citra Raya, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari konsolidasi internal untuk memastikan nilai-nilai karakter terintegrasi secara konsisten dalam pembelajaran dan budaya sekolah.
Forum tersebut menegaskan bahwa PKT tidak diposisikan sebagai materi tambahan, melainkan sebagai sistem yang membingkai seluruh proses pendidikan. Penguatan ini dinilai penting untuk menjaga mutu pendidikan sekaligus menjawab tuntutan masyarakat terhadap sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.
Menghidupi Keteladanan
Kepala Divisi Pendidikan Yayasan Tarakanita Wilayah Tangerang, Christiana, menekankan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai CC5+ harus bersifat mendalam dan aplikatif. Guru, menurut dia, perlu menghidupi nilai tersebut dalam keseharian sehingga peserta didik mengalami langsung teladan karakter di lingkungan sekolah.

Pada sesi pemaparan materi, Bonafasius Bambang Sudarmono menyoroti pentingnya rasa memiliki terhadap lembaga sebagai fondasi implementasi PKT. Ia mengingatkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ajakan untuk menerjemahkan nilai dalam praktik nyata. “Bukan hanya sekadar workshop, tetapi bagaimana kita mengimplementasikan PKT tersebut dalam karya nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, outcome Tarakanita mencakup kualitas karakter peserta didik, peningkatan capaian akademik dan nonakademik, serta terbangunnya kepercayaan masyarakat. Indikator tersebut dinilai saling berkaitan dan hanya dapat dicapai apabila pendidikan karakter dijalankan secara konsisten. Refleksi mengenai kebanggaan terhadap Tarakanita juga mengemuka dalam forum tersebut. Rasa bangga dinilai akan menumbuhkan komitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur lembaga, sekaligus memperkuat solidaritas antarguru dalam menjalankan misi pendidikan.
Integrasi dalam Kurikulum
Strategi implementasi PKT dipaparkan Yustinus Sumayanto melalui integrasi nilai karakter dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ia mendorong guru memanfaatkan instrumen Jejak Pendidikan Karakter Tarakanita sebagai sarana evaluasi dan pemetaan pelaksanaan program. Pembiasaan dan keteladanan disebut sebagai kunci agar nilai tidak berhenti pada dokumen perencanaan.
Sementara itu, Dominicus Ponco Wibowo membahas perangkat pembelajaran serta penggunaan buku karakter peserta didik sebagai alat pendukung. Dalam sesi diskusi per jenjang, para guru merumuskan evidence implementasi PKT yang telah berjalan dan menyusun rencana penguatan lanjutan. Proses ini diarahkan agar pelaksanaan pendidikan karakter memiliki ukuran yang jelas dan dapat dipantau secara berkala.
Akar Spiritualitas CB
Penguatan perspektif spiritualitas disampaikan Suster Laurentia, CB. Ia menegaskan bahwa PKT berakar pada spiritualitas dan nilai-nilai Kongregasi CB yang diterjemahkan dalam CC5+ Tarakanita. Menurut dia, guru memiliki peran sentral sebagai figur teladan yang menghadirkan nilai tersebut dalam interaksi sehari-hari dengan peserta didik.

“PKT adalah akar spiritualitas dari nilai-nilai Kongregasi CB yang dihidupi dan diwujudkan dalam nilai-nilai CC5+ Tarakanita. Guru harus menjadi contoh nyata bagi anak-anak,” ujarnya.
Melalui Hari Studi Guru ini, Yayasan Tarakanita Wilayah Tangerang berharap penguatan implementasi PKT berbasis CC5+ berjalan sistematis dan berkelanjutan. Upaya tersebut diarahkan untuk membentuk peserta didik yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepekaan sosial, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan Tarakanita. ( Agatha Susanti Loman Lengari, S.Pd.)

