Jumat (13-12-2024): SabdaNya Pelita bagi Kaki Kita dan Terang bagi Jalan Hidup Kita! (Matius 11: 16-19)

Yesus berkata kepada orang banyak: “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.  

Karena Yohanes datang, ia tidak makan,  dan tidak minum,   dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.  Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.  Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”  (Matius 11: 16-19).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

TUHAN meminta kita untuk menjadi FirmanNya, hukumNya, perkataan, perintah-perintah dan aksi nyata Tuhan sebagai pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan hidup kita. Tuhan menjadi guru kehidupan kita, dan perintah-perintahNya sebagai hukum atau protokol kehidupan kita.

“Beginilah Firman Tuhan, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: Akulah Tuhan Allahmu, yang mengajarkan hal-hal yang berfaedah bagimu, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.  Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kehabagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang  laut yang tidak pernah berhenti!” (Yesaya 47:17-18).

Melalui nabi Yesaya,  Tuhan menyerukan supaya umat Israel (kita juga)  setia dan taat kepada Tuhan dan mendengar serta melaksanakan perintah-peritahNya supaya Damai Sejahtera dan Kebahagiaan melimpah menjadi milik mereka (kita juga).

Sementara dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk mendengarkan perintah-perintahNya. Jangan menutup hati untuk mendengarkan serta melaksanakan Firman atau perintah-perintahNya sebagai pedoman, hukum atau protokol kehidupan kita untuk mencapai Damai Sejahtera,  Kebahagiaan dan Keselamatan.

Jangan menutup hati terhadap tawaran keselamatan yang disampaikan Tuhan lewat mulut “para nabi” dari dahulu sampai sekarang ini dan di sini. Janganlah kita seperti “orang-orang yang duduk di pasar” yang menganggap mereka (Yohanes Pembabtis sebagai kerasukan setan dan Yesus sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa) seperti didapat dalam Inil Matius 12:18-19 yang kita baca tadi.

Kita perlu membuka diri terhadap Tuhan,  Guru kehidupan kita untuk mendengarkan dan melaksanakan perintah-perintahNya sebagai jalan,  kebenaran dan kehidupan kita; yang membawa sukacita, kebaikan, kegembiraan, pencerahan, keselamatan untuk kita.

Semoga dengan bantuan doa Santa Lusia, perawan dan martir yang pestanya kita peringati pada hari ini,  Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  sekalian yang telah, sedang dan akan menjadikan Firman, Rencana, kehendak, hukum Tuhan sebagai protokol kehidupan kita: “Pelita bagi kakiku dan erang bagi jalan hidupku”. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *