Setelah membasuh kaki para muridNya, Yesus berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.
Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 13: 16-20).
Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
SADARKAH kita bahwa Allah yang kita imani selama ini “sudah, sedang dan akan” tetap punya andil maha dasyat dalam seluruh peristiwa hidup kita (terutama dalam sejarah keselamatan hidup kita)? Coba ingat-ingat peristiwa dan pengalaman hidup kita dari saat ke saat, peristiwa atau pengalaman pahit dan manis, suka dan duka, terang dan gelap.
Andil Allah itu (tindakan penyelamatan Allah) terhadap kita digenapi, disempurnakan oleh Yesus Kristus, dengan menjadi Hamba atau pelayana, melayani dengan memberi teladan yaitu membasuh kaki: melayani dan mencintai.
“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan dari dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya! (Yohanes 13:16-17).
Apa balasan kita terhadap andil Allah ini, terhadap andil Tuhan Yesus yang kita imani itu? Kepada para Rasul jaman dulu, dan kepada kita jaman kini, Yesus hanya meminta untuk meneladani Dia untuk mencapai atau menikmati keselamatan itu. Apa yang mau diteladani?
Pertama, melayani. “Dalam perjamuan malam terakhir Yesus membasuh kaki para muridNya” (Yohanes 13:16). Yesus membasuh kaki mereka, membasuh kaki kita juga saat ini di sini. Dengan membasuh kaki mereka (kita), Yesus meminta mereka (kita juga) untuk “memberi diri sepenuhnya” dalam karya pelayanan kita. Jadi kita melayani dengan rendah hati. Kita menjadi pelayan, hamba, abdi yang hanya memberi yang terbaik dan terindah untuk yang lain (Tuhan dan orang lain serta lingkungan alam ciptaan).
Kedua, mencintai. Dalam tindakan mencintai, terkandung unsur “korban atau pengorbanan” untuk keselamatan, kebahagiaan orang lain. “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang ‘menyerahkan nyawa’ (korban nyawa) bagi sahabat-sahabatnya!” (Yohanes 15:13).
Kedua hal di atas bukan sekedar syarat untuk mencapai keselamatan, tetapi menjadi ciri khas yang harus ada pada setiap orang beriman. Selamat membasuh kaki! Selamat melayani dan mencintai! Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria dan Santo Yoseph, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang rajin “membasuh” kaki orang lain, yang rajin melayani dan mencintai Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.