VATIKAN,KITAKATOLIK.COM—Di hari kedua prosesi Konklaf (pemilihan Paus), Roh Kudus yang bekerja dalam diri para kardinal yang berkumpul dengan pintu tertutup di Kapel Sistina, Vatikan, telah memilih Kardinal Robert Francis Prevost, asal Amerika Serikat, sebagai pengganti Paus Fransiskus.
Beberapa waktu setelah asap putih membubung dari cerobong asap Kapel Sistina, Kardinal Giovanni Battista Re, dekan Dewan Kardinal, mengumumkan terpilihnya Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus yang baru.
“Annutio vobis gaudium magnum, Habemus Papam!” (yang artinya “Aku mengumumkan kepada kalian kabar sukacita besar, Kita memiliki Paus!”). “Robert Prevost. Paus Leo XIV!” katanya dari atas Balkon Basilika Santo Petrus, Kamis (8/5/2025).
Sarjana Matematika dan Guru Seminari
Kardinal Robert Prevost lahir di Chicago pada tahun 1955 dari orang tua keturunan Spanyol dan Prancis-Italia. Sejak kecil, ia telah mengambil bagian dalam pelayanan di gereja, terutama sebagai putra altar. Itulah yang mendorongnya untuk masuk Seminari.
Sejak 1 September 1977, ia menjadi anggota Ordo Santo Agustinus. Setelah menjalani pendidikan di Seminari Tinggi, ia ditahbiskan sebagai imam dari Ordo Agustinian pada 19 Juni 1982 di Kolese Agustinian Santa Monica di Roma oleh Mgr. Jean Jadot.
Ia juga sempat belajar Matematika di Unversitas Villanova hingga meraih gelar Sarjana Matematika.
Melanzir dari Vatican News, setelah ditahbiskan sebagai imam, ia diutus ke wilayah misi di Peru, di mana ia berkontribusi besar dalam pendidikan dan pelayanan umat selama lebih dari satu dekade. Di Trujillo, ia menjadi prior komunitas, dosen teologi, dan administrator paroki di wilayah miskin. Itulah yang membentuk dan menguatkan karakter pastoralnya.
Kiprah internasionalnya semakin menonjol ketika ia memimpin Provinsi Augustinian di Chicago dan kemudian terpilih sebagai Prior Jenderal Ordo Augustinian pada 2001 dan kembali dipercaya pada 2007. Perjalanan ini menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam ordo tersebut di tingkat global.
Uskup Chiclayo, Peru
Di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus, Prevost kembali ke Amerika Latin dan dipercaya sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Chiclayo, Peru.
Tak lama, ia diangkat sebagai Uskup Tituler Sufar dan kemudian sebagai Uskup Chiclayo. Selama delapan tahun, ia aktif dalam Konferensi Waligereja Peru serta menjabat di berbagai komisi penting.
Perjalanan rohaninya menuju pusat Vatikan berlanjut saat ia diangkat menjadi Prefek Dikasteri untuk Para Uskup dan Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin pada 2023.
Pada tahun berikutnya, ia diangkat menjadi Kardinal dan menerima gelar Diakon Santo Monika.
Kiprah di Vatikan
Dalam perannya sebagai kepala Dikasteri, Prevost turut serta dalam pertemuan Sinode tentang sinodalitas dan dalam berbagai misi apostolik. Ia juga menjabat sebagai anggota berbagai dikasteri penting, termasuk Evangelisasi, Gereja-Gereja Timur, dan Institut Hidup Bakti. Penugasan yang luas itu memperlihatkan kepercayaan besar Paus Fransiskus terhadapnya.
Pada Februari tahun ini, Prevost ditetapkan dalam Ordo Uskup dengan gelar Gereja Suburbikaria Albano.
In Illo uno unum
Moto episkopal Prevost, In Illo uno unum, mengandung makna mendalam: bahwa dalam Kristus yang satu, seluruh umat Kristiani menjadi satu tubuh. Ungkapan itu mencerminkan visi persatuan dan kerendahan hati yang menjadi karakteristik kuat kepemimpinannya.
Kini, sebagai Paus Leo XIV, ia membawa warisan spiritual Ordo Augustinian ke Takhta Suci, memadukan akar misi di Amerika Latin dengan tanggung jawab global di Vatikan.
Dalam kata-kata pertamanya sebagai Paus, Leo XIV berbicara dengan penuh kasih tentang pendahulunya, Fransiskus. Beliau menggambarkan Paus Fransiskus sebagai seseorang yang berani dan penyalur berkat yang baik bagi umat manusia.
“Kita masih mendengar di telinga kita suara Paus Fransiskus yang lemah namun selalu berani yang memberkati kita,” katanya. “Bersatu dan bergandengan tangan dengan Tuhan, mari kita maju bersama,” tambahnya kepada orang banyak yang bersorak.
Beliau akan dipandang sebagai tokoh yang mendukung keberlanjutan reformasi Fransiskus di Gereja Katolik. Paus Leo XIV diyakini memiliki pandangan yang sama dengan Fransiskus tentang migran, kaum miskin, dan lingkungan. (Admin/dbs).


