SURABAYA,KITAKATOLIK.COM—KABAR tak menyenangkan datang di ujung Januari 2003. Setelah pemeriksaan teliti atas fungsi ginjalnya yang terdeteksi menurun drastis, dokter mengharuskannya menjalani proses cuci darah pada Selasa (28 Januari 2003).
Kabar tak sedap tentang kesehatan tubuhnya itu, membuat Edy Loke termenung. Pendiri Kerukunan Pekerja Katolik (KPK) Keuskupan Surabaya, itu merasa sedikit terjepit. Apalagi bila memikirkan biayanya. Saat itu belum ada BPJS, semuanya harus ditanggung sendiri.
Menurut pihak administrasi Rumah Sakit Mitra Keluarga Surabaya, biaya cuci darah saat itu mencapai 60 juta rupiah, jumlah yang sangat besar bagi seorang pekerja sosial gereja. Belum termasuk biaya dokter.
Tapi tangan Tuhan nyata. Banyak pihak telah berkomitmen membantu dalam pembiayaan. Komisi Sosial Keuskupan, tempat suami dari Bernadetha T. Meno ini mengabdikan diri, bersedia membayar. Biaya dokter ahli tak masuk hitungan alias gratis karena dokter ahli yang bakal menanganinya adalah orangtua murid bu Berna, istri Edy. Jadilah, dengan modal dua setengah juta rupiah uang pribadi, ia siap ditindak pada Selasa, 28 Januari 2003 itu.
Bunda Maria Menyapa
Masalah biaya, sepertinya sudah aman. Tapi “cuci darah” tetap merupakan “momok” yang menakutkan. Akan memakan waktu sangat panjang dan resiko kematian yang berpeluang datang kapan saja. Ia melewati malam-malamnya dengan sedikit gelisah. Doa terus dia panjatkan.
Dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu (25/1/2003), sebuah peristiwa spiritual terjadi. Bunda Maria menghampiri alumnus Sekolah Tinggi Fisafat dan Teologi Katolik (STFK) Ledalero ini.
Tengah malam, hampir pagi, antara sadar dan tidak sadar, Edy melihat Bunda Maria datang dengan mengenakan baju warna pink dengan bis putih. Spontan Edy terbangun.
“Bunda Maria, sembuhkan saya ko,” katanya pada Bunda Maria dengan dialeg Bajawa yang kental. Bunda Maria tersenyum. Sang istri yang tidur di sampingnya heran, suaminya bicara sendiri. “Saya lihat Bunda Maria ko,” kata Edy.
Selasa (28/1/2003) proses cuci darah pertama dilakukan. Setelah itu ia langsung pulang dan diwajibkan datang seminggu kemudian. Saat datang, dokter menyampaikan bila kreatinnya yang dulu 8, kini tinggal 1. Tak lanjut cuci darah, dokter menyuruhnya balik dulu. Minggu depan datang lagi.
Minggu kedua, Edy datang lagi. Dilakukan cek lengkap laboratorium dan dokter menyampaikan bahwa hasilnya normal. “Bapa mengalami mukjizat,” kata dokter.
Pengalaman ini sungguh menguatkan iman ayah dari Clararista Holy dan Gaudensia ini. Pengalaman ini, kata dia, menjadi energi baru untuk semakin percaya kepada Tuhan dan makin tekun berdevosi kepada Bunda Maria.
Dekat sebuah makam tua
Pengalaman perjumpaan dan pertolongan Bunda Maria tak hanya sekali terjadi. Suatu kali, ia ditugaskan kantornya ke Stasi Mujerejo, Blitar Selatan untuk pembuatan sumur dengan bantuan Belanda. Di pusat stasi, tempat ia menginap, ada semua makan tua, makam seorang pastor perintis misi di daerah tersebut.
Tempat itu dianggap angker. Banyak hal aneh dikabarkan terjadi. Yang menginap di sana, pasti tak akan nyenyak.
“Malam hari, Bunda Maria datang. Letakkan rosario di tangan saya. Saya senang sekali. Saya tetap menggenggamnya,” cerita Edy. Ia tidur pulas malam itu. Tak ada gangguan mistis sedikit pun.
Mendengar ceritanya, orang di sekitar situ mengatakan, dia mendapat berkat. Edy tak memberikan penafsiran atas pengalaman rohaninya itu. “Yang jelas, saya merasa energi Bunda Maria masuk ke saya,” tuturnya.
Desain Program
Sementara kuliah di STFK Ledalero, Edy sempat bekerja di Pusat Penelitian Candraditya, Ledalero bersama Pater Dr. John Prior SVD dan Pater Dr. Huber Muda, SVD. Dengan bekal Ijazah Filsafat Teologi Katolik, ia ke Surabaya, bergabung dengan Pusat Penelitian Alocita, pimpinan Emmanuel Subangun, dari 1990 hingga 1992.

Tahun 1992, pria kelahiran 24 Maret 1964, ini bekerja di Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Surabaya. Di sore hari, ia melayani para buruh, tepatnya para pekerja Katolik. Terkait pelayanan ini, bersama teman-teman, ia mendirikan Kerukunan Pekerja Katolik (KPK). Serta menerbitkan bulletin KPK sebagai jembatan aspirasi dan inspirasi antara gereja dan para pekerja.
Bersama teman-teman, ia mengumpulkan ratusan buruh Katolik untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka. Dengan bantuan dana dari luar negeri, ia mendirikan beberapa asrama bagi para pekerja katolik. Buletin KPK yang digagasnya kemudian menjadi media Keuskupan Surabaya dengan nama Suara Umat Katolik (SuKa) dan Edy dipercaya sebagai pemimpin redaksinya.
Suatu hari di tahun 1996, komunitas peduli sosial dari Belanda datang. Edy diminta mengantar mereka ke Blitar, Madiun dan Ngawi. Terkesan dengan keramahannya, mereka pun membantu biaya kuliah bahasa Inggrisnya. Belajar di Universitas Bung Tomo (Unitomo) selama dua tahun, ia pun meraih ijazah Sastra Inggris.
Berkat kefasihan berbahasa Inggris, Edy mendapat tugas dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Indonesia untuk mengikuti pelatihan Design Program untuk Pengembangan Sosial Ekonomi di Srilangka, Kolombo. Kembali dari sana, ia ditugaskan memberikan pelatihan Design Program Pengembangan Sosial Ekonomi kepada para pastor di seluruh Indonesia, terutama yang berkiprah di bidang Pengembangan Sosial Ekonomi umat.

“Orientasinya pada pelayanan gereja. Kita memfasilitasi pendamping. TOT, latih para pendamping untuk mendesain progam. Kita lihat bagaimana potensi lokalnya. Buat analisa, apa yang perlu dibantu, sampai menyusun proposal. Saya enjoy dengan pekerjaan ini karena memang minat saya disitu,” akunya. Para bupati sering meminta bantuan Edy menyusun progam pengembangan masyarakat di wilayah mereka. (Paul MG)

