Dalam kotbah di Bukit, Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6: 19-23).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
“Cinta dan Permata” adalah judul lagu yang pernah dinyanyikan grup Panbres. Salah satu liriknya berbunyi: “Harta adalah hiasan hidup semata… kejujuran, keiklasan, itu yang utama!” Penggalan lagu ini menyiratkan bahwa harta dan kekayaan bukanlah hal yang utama, bukanlah satu-satunya jaminan atau tujuan bagi kehidupan kita di dunia ini.
Harta dan kekayaan mungkin memampukan kita untuk memperoleh segala-galanya di dunia ini. Tetapi, hal itu bukanlah jaminan untuk sebuah kebahagiaan. Ada yang tidak punya harta dan kekayaan tapi hidup bahagia. Ada yang punya harta dan kekayaan melimpah tapi hidup tidak bahagia.
Harta dan kekayaan bukanlah sesuatu yang buruk dan negatip dalam dirinya. Berarti berharta dan berkekayaan itu baik dan sangat positip. Akan menjadi baik atau buruk, menjadi positip atau negatip, tergantung dari bagaimana kita memandang dan mempergunakan harta dan kekayaan tersebut.
Tergantung mata (hati) sebagai pelita tubuh, kata Yesus dalam Injil hari ini. “Jika mata (hati) mu baik, maka teranglah seluruh tubuhmu; jika mata (hati) mu gelap maka gelaplah seluruh rubuhmu!” (Matius 6:22-23).
Mata hati baik, maka harta dan kekayaan membantu untuk menemukan, merasakan kebahagiaan; menjadikan harta sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Menjadi sarana untuk membawa rahmat dan berkat utk orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya.
Sebaliknya, mata hati gelap menjadikan kita pribadi yang memandang harta dan kekayaan sebagai tujuan, bukan sarana. Harta dan kekayaan adalah fokus, segalanya, malah “men-Tuhan-kan” harta dan kekayaan, padahal ia hanya hiasan belaka, kata Panbres.
Yesus mengajak kita hari ini (Matius 6:19-23) untuk bijaksana dalam mengumpulkan dan menyikapi atau menggunakan harta dan kekayaan yang kita miliki. Harapan Yesus: harta dan kekayaan kita hendaknya menjadi sarana keselamatan. Sarana untuk memuliakan Tuhan Allah dan sarana untuk keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain, serta lingkungan ciptaan lainnya. Harta dan kekayaan menjadi berkat bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Itulah harta surgawi yang bersifat abadi.
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita yang menjadikan diri dan seluruh kekayaan sebagai sarana dan berkat Tuhan bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.


