Kamis (27-2-2025): Hendaklah Kamu Selalu Mempunyai Garam dalam Dirimu!” (Markus 9: 41-50)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.

Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya  lalu ia dibuang ke dalam laut.  Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka,   ke dalam api yang tak terpadamkan;  (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 

Dan jika kakimu menyesatkan  engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;  (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 

Dan jika matamu menyesatkan  engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,  di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami  dengan api.

Garammemang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimudan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Markus 9: 41-50).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

ADA tiga anggota tubuh ditulis dalam Injil hari ini: Tangan, kaki dan mata. Ketiga anggota badan ini, menurut Markus, mempunyai arti tersendiri. Apabila ketiga anggota tubuh ini digunakan sebagaimana seharusnya, maka orang itu akan “hidup”. Sebaliknya, jika ketiganya tidak digunakan sebagai mana semestinya (“menyesatkan” diri sendiri dan atau orang lain) maka orang itu masuk neraka (“tidak hidup”).

Yesus memerintahkan kita untuk memenggal kaki dan tangan dan mencungkil mata apabila  “menyesatkan” diri sendiri dan orang lain. Yesus beralasan, lebih baik masuk ke dalam hidup (Kerajaan Allah) dengan tangan kudung dan kaki timpang serta bermata satu daripada dengan berbadan utuh tetapi sayang masuk neraka.

Ajaran Yesus ini sangat tegas dan jelas, bukan “kejam”! Ia menghendaki agar kita semua hidup baik dan benar, berdamai dan bertobat dan selamat serta memiliki hidup. Tidak seorangpun binasa. Keselamatan itu harus kita perjuangkan mati-matian sedemikian rupa tanpa dihalang-halangi atau dikalahkan oleh “kelaliman atau dosa” yang lahir akibat  “salah” ambil/sentuh, “salah” jalan/langkah, “salah” lihat/pandang, dan “salah-salah” lainnya.

Pada sisi lain, Yesus memberi solusi, jalan, arah yang benar (supaya jangan salah atau tersesat)  yaitu agar kita harus menjadi sarana, alat keselamatan, rahmat, berkat bagi diri sendiri dan terutama bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya, bukan malah menjadi batu sandungan bagi keselamatan diri sendiri dan orang lain, bukan malah menyesatkan diri sendiri dan orang lain.

Yesus meminta kita menjadi “seteguk atau secangkir air” dan segenggam garam bagi  orang lain dan diri sendiri dalam hidup ini; menjadi sumber dan memberi rasa aman, damai, sejahtera, bahagia, sukacita, cintakasih, harapan, ketenangan, penghiburan, kekuatan, kebaikan, pelayanan, keselamatan. Selamat menjadi “secangkir/seteguk air dan segenggam garam”!

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita yang selalu berjuang untuk menjadi “secangkir air” dan “segenggam garam” yang “mengenakkan” hidup diri sendiri dan orang lain dan lingkungan alam citaan lainnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *