JAKARTA,KITAKATOLIK.COM— Kunjungan Paus Fransiskus selama 3 hari, tiga malam ke Indonesia sangat membekas dalam hati umat Katolik Indonesia, juga umat lainnya. Kesan kuat pertama dari kehadiran Paus Fransiskus di Indonesia adalah kesederhanaan, keterbukaan serta keramahan.
Kesederhaan terekspresi melalui pilihan pesawat (bukan jet pribadi), mobil yang dipakai saat di Indonesia yang jauh dari kesan mewah, hingga jam tangan yang dipakai pemimpin tertinggi umat Katolik di dunia ini.
Terkait kendaraan yang dipakai Paus Fransiskus selama kunjungan pastoralnya di Indonesia, masyarakat umum bertanya: Mengapa Innova Zenix Hybrid yang akhirnya dipakai? Bukan jenis mobil lainnya, atau mini Alphard seperti yang diusulkan panitia? Atau juga kendaraan anti peluru (armored vehicle)?
Tiga syarat
Sebetulnya apa yang melatari pilihan kendaraan tersebut? Jawaban pasti datang dari Muliawan Margadana, Koordinator Acara dan Non Liturgi Ekaristi Kudus di Gelora Bung Karno. Dalam percakapannya bersama Febby Mahendra Putra, Direktur Pemberitaan Tribun Network, Muliawan membeberkan tiga syarat yang diminta Vatikan terkait pilihan kendaraan, yaitu harus sederhana, bukan anti peluru dan polos.
“Sudah sejak awal Vatikan minta harus terbuka, tidak mau menggunakan armored vehicle atau mobil anti peluru. Mobilnya harus sederhana, kaca filmnya tidak boleh pakai, harus clear atau polos begitu. Jadi tiga syarat itu, yaitu sederhana, bukan mobil anti peluru, dan kacanya harus polos,” kata Muliawan.
Mengapa kacanya harus polos? Masih menurut Muliawan, karena Paus ingin menyapa umatnya, ingin berinteraksi dengan umatnya, jadi tak ingin tertutup.
Sebetulnya, lanjut Muliawan, panitia telah menyiapkan beberapa tipe dan jenis mobil. Salah satunya adalah mini Alphard. Tapi kacanya tak bisa diturunkan ke bawah, jadi tak memenuhi salah satu syarat yang diminta Vatikan yaitu terbuka dan berpeluang berkomunikasi dengan umat. Tambahan lagi, terlalu tinggi dan menyulitkan Paus Fransiskus, terutama dalam kondisinya kini.
Sementara jenis Hybrid yang dipilih karena ingin mengkampanyekan semangat cinta lingkungan seperti tertuang dalam Ensiklik Laudato Si yang diumumkan pada 2015 yang lalu. (Paul MG).

