Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (Lukas 13: 1-5).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
ADA anggapan umum bahwa kemalangan, penderitaan manusia adalah akibat dosa atau kejahatan. Tetapi Yesus menegaskan bahwa kemalangan dan penderitaan tidak selalu merupakan akibat dosa atau kejahatan.
Dalam peristiwa kemalangan dan penderitaan kita, Yesus tidak fokus pada “keadaan berdosa” karena berdosa itu manusiawi sekali, semua orang berdosa adalah orang berdosa, tanpa kecuali; hanya Yesus sendiri yang tidak berdosa. Tuhan Yesus fokus pada sikap dan semangat tobat (bertobat, pertobatan).
“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain karena mereka mengalami nasib itu (dibunuh)? Tidak, kataKu kepadamu! Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian!” Terimplisit atau tersirat di sini, kalau bertobat, tidak binasa! Kalau tidak bertobat, binasa.
Masa Prapaskah (retret agung) adalah kesempatan emas (berahmat) bagi kita yang notabene pasti berdosa, untuk bertobat (balik arah, berbalik kepada Allah, memperbaiki relasi dengan Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya). Bahasa perumpamaan pohon ara nya (Lukas 13: 6-9): …. biarkan dia (kita) yang berdosa itu bertumbuh setahun lagi, jangan ditebang/dipotong, mencangkul sekelilingnya, memberi pupuk “cinta kasih dan perbuatan amal kasih” sehingga menghasilkan buah-buah kebaikan, cintakasih, dan keselamatan.
Inilah pertobatan! Sarana untuk kita bertobat dan menghasilkan buah cintakasih dan kebaikan dan keselamtan adalah Sakramen Tobat dan terutama Sakramen Ekaristi. Di sana dosa kita past dihapuskan Tuhan. Maka pada Tahun Ekaristi Transformatif 2025 dan Tahun Yubileum 2025 ini rajin-rajinlah bertobat! Rajin-rajinlah datang ke tempat pengakuan dan ikut perayaan Ekaristi Harian (vakultatip) dan Misa hari Minggu (wajib: Kuduskanlah Hari Tuhan, perintah Tuhan sendiri) dan Hari-hari yang diwajibkan oleh Gereja Katolik.
Selamat bertobat! Selamat berbalik kepada Allah dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya! Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang rajin bertobat. Amin.


