Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel ” –yang berarti: Allah menyertai kita.
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya. (Matius 1: 16.18:24a).
Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
DI tengan masa retret agung ini, Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Yosef, suami Santa Perawan Maria. Penginjil Matius menampilkan figur Yosef sebagai seorang yang sedang berada dalam “dilema besar” (sedang berada dalam persoalan, masalah, kesulitan besar yang dilematis) dalam mengambil keputusan yang penting: bertahan dengan Maria yang sudah mengandung bukan dari dia atau menceraikannya dengan diam-diam.
“Sebelum Kristus lahir, Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yosef. Ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yosef suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam!” (Matius 1:18-19).
Dalam pergulatannya itu (juga dalam pergulatan kita dalam persoalan berbeda) Tuhan Allah selalu dan pasti hadir, bekerja, berbuat sesuatu, berbicara, terlibat, bertindak dengan caraNya sendiri yang pada dasar dan pada akhirnya selalu memberikan yang terbaik dan terindah bagi kita.
Kuncinya: kita (seperti Yosep dalam Injil hati ini) masih mau dan berani mendengarkan dan mematuhi suara, rencana dan kehendak Allah yang sedang bekerja saat ini dan di sini! Dalam pengalaman dan pergulatan Yosef (kita), “persoalan hidup” akan menjadi lebih jernih ketika kehendak Tuhan menjadi pedoman tunggal dalam mengambil sikap atau keputusan.
“Tetapi ketika Yosef mempertimbangkan maksud itu, Malaekat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: Yosef, anak Daud, janganlah takut mengambil Maria sebagai istrimu, … Sesudah bangun dari tidurnya, Yosef berbuat seperti yang diperintahkan Malaekat Tuhan itu kepadanya!” (Matius 1:20-24).
Malaekat Tuhan selalu hadir dan melindungi kita dalam kehidupan berkeluarga yang penuh dengan persoalan hidup yang kompleks. Jangan cepat menyerah! Lihat titik-titik terang (meski suram atau gelap) di balik persoalan hidup yang dialami melalui doa atau Misa, penerimaan Sakramen Ekaristi, nasihat atau solusi yang diberikan Tuhan melalui “malaekat-malaekat Tuhan” yang ada di sekitar kita.
Selamat bergumul dengan hidup kita dengan segala persoalan kita! Selamat berani mendengarkan, mematuhi dan melaksanakan suara, rencana dan kehendak Tuhan. Yakinlah, Tuhan selalu beri keputusan yang terbaik dan terindah untuk kita.
Semoga dengan bantuan doa Santo Yosef, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang berani mendengarkan, mamatuhi dan melaksanakan suara, rencana dan kehendak Allah dalam menghadapi persoalan hidup. Amin.