Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Lukas 14: 25-35).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26-27).
Ayat-ayat ini menunjukkan syarat untuk menunjukkan syarat untuk menjadi murid Tuhan. Sebagai murid Tuhan, kita diajak untuk memiliki, menghayati, mengamalkan dan menikmati “Spiritualutas hidup (cara hidup, semangat hidup, protokol hidup) lepas bebas”.
Apa itu? Suatu cara atau sikap atau semangat atau protokol hidup di mana kita melihat atau memandang segalanya dan yang kita miliki (bapa, ibu, saudara, saudari, kekayaan, harta, pangkat, “salib”, penderitaan, kesulitan atau persoalan hidup) sebagai suatu sarana yang dapat “menghantar” kita pada penyucian diri dan mendekatkan diri dan bersatu dengan Tuhan.
Segala sesuatu yang “dimiliki”, segala harta duniawi atau orang-orang yang kita miliki dan sayangi tidak akan kita bawa ketika menghadap Tuhan. Semuanya akan kita lepaskan. Semuanya itu tidak boleh menghalangi kita untuk dekat dan bersatu dengan Tuhan dan sesama. Maka semuanya itu mesti digunakan untuk kemulian Tuhan dan sesama dan diri sendiri; untuk kebaikan dan kebahagiaan sesama dan diri sendiri “saat ini – di sini”.
Tuhan Yesus mengajak kita untuk mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya, memikul salibnya, dan mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh. Selamat memiliki, menghayati, mengamalkan dan menikmati spiritualitas hidup “lepas bebas”! Selamat Menomorsatukan Tuhan dalam dan di atas segalanya! Melibatkan Tuhan dalam dan di atas segalanya!
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang telah menghayati dan mengamalkan spiritualitas atau cara atau semangat hidup “lepas bebas” di sini – saat ini. Amin.


