Selasa (10-6-2025), Pesta Santo Antonius dari Padua: Jadilah Garam dan Terang Dunia! (Matius 5: 13-16)

Dalam Kotbah di Bukit, Yesus berkata kepada orang banyak: “Kamu adalah garam. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 

Kamu adalah terang dunia.  Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah  itu. 

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,   supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik   dan memuliakan  Bapamu yang di sorga.” (Matius 5: 13-16).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

 BAGAIMANA manakanan tanpa garam? Tentu saja hambar,  tidak enak kan?  Bagamana “dunia” tanpa terang,  cahaya?  Tentu saja gelap kan? Juga tidak “enak”, tidak bagus,  tidak elok,  tidak aman,  tidak nyaman, tidak baik-baik saja, dan lain-lain semacam itu.

Kita disebut oleh Kristus sebagai garam dan terang dunia. Yesus mau mengajak kita supaya hidup kita, saat ini di sini (sebagai apa saja kita dan di mana saja) harus berguna dan bermanfaat bagi Tuhan, sesama dan diri sendiri dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Bukan hanya untuk diri sendiri.

Hidup yang berguna dan bermanfaat adalah hidup yang selalu menggarami, mengenakkan,  membumbui hidup orang lain menjadi enak dan awet dengan “garam/ajinomoto” cintakasih,  perbuatan baik dan benar, amal kasih dan berbagi,  perhatian, dan lain-lain garam atau ajinomoto seperti itu.

Hidup yang bermanfaat dan berguna adalah hidup yang membawa dan memberi “kecerahan,  pencerahan kepada “dunia yang gelap”, dengan “terang/pelita” cintakasih, terang perbuatan baik dan benar,  terang amal kasih,  dan lain-lain  seperti itu. Hidup yang berguna dan bermanfaat bagi Tuhan,  orang lain dan diri sendiri, lingkungan alam ciptaan lainnya adalah hidup yang membahagiakan.

Berbahagialah orang yang hidupnya bermanfaat dan berguna bagi Tuhan,  orang lain dan diri sendiri. Celakalah orang yang hidupnya “tidak berguna dan bermanfaat” bagi yang lain. Tidak dihargai dan tidak dihormati,  selain “diinjak-injak” orang. “Jika garam menjadi tawar, tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang!” (Matius 5:13).

Apakah kita mau dibuang dan diinjak orang? Tentu saja tidak mau! Maka jadikanlah hidup kita berguna dan bermanfaat bagi Tuhan, orang lain dan diri sendiri dan lingkungan alam ciptaan lainnya saat ini-di sini.

Semoga Allah Tritunggal  Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang hidupnya (sudah, sedang, akan) berguna bagi Tuhan, sesama dan diri sendiri dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *