Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu!” (Lukas 11: 37-41).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
DALAM Injil hari ini, Yesus meminta para muridNya dan segenap umat kristiani (kita) untuk memperhatikan kebersihan dari dalam, kebersihan hati, pikiran dan tindakan.
Diceritakan, Yesus masuk ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tanganNya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan ‘bagian luar’ dari cawan dan pinggan, tetapi ‘bagian dalam’-mu penuh rampasan dan kejahatan. … berikanlah ‘isinya’ sebagai sedekah dan sesungguhnya akan menjadi bersih bagimu!” (Lukas 11:37-41).
Kedalaman, ketulusan dan kemurnian hati, pikiran dan tindakan (kebersihan hati, pikiran dan tindakan) dalam menjalankan sesuatu, kebenaran, kehidupan keagamaan jauh lebih penting atau utama daripada “tindakan-tindakan formal” yang kelihatan tetapi tidak diikuti oleh motivasi yang tulus dan murni dalam melakukannya. Inilah yang disebut sebagai sikap munafik.
Yesus mengecam orang Farisi (kita) karena sikap yang munafik ini. Sikap munafik membuat kepribadian kita tidak lagi utuh, tapi terpecah belah. Dalam situasi semacam begini, konflik batin akan terus terjadi. Sejalan dengan sikap munafik ini, kita selalu memakai topeng, tidak tampil apa adanya dan akan selalu berbohong.
Apakah ada sukacita, kegembiraan dan kebahagiaan dengan cara hidup seperti ini? Jelas tidak mungkin ada. Kebahagiaan terjadi bila hati dan pikiran kita bersih, murni, tulus serta tindakan kita tulus, jujur, benar.
Agar tidak jatuh dalam sikap kemunafikan, maka yang pertama sangat penting kebiasaan untuk melihat diri agar senantiasa waspada dengan sikap munafik. Yang kedua adalah menjaga hati dan pikiran agar tetap bersih, jujur, tulus dan lurus. Hati dan pikiran serta tindakan kita selalu positif dan terarah pada rencana dan kehendak Allah (yang selalu beri yang terbaik dan terindah untuk kita).
Dengan bersikap demikian, maka apa yang kita katakana dan lakukan akan membawa hal-hal positif: sukacita, kebahagiaan, keselamatan untuk kita. Bunda Maria adalah teladan dalam hal ketulusan, kejujuran; menuruti perkataan dan kehendak Allah.
Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria dan Santo Yosef, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang memperhatikan “kebersihan hati dan pikiran serta tindakan dari dalam” terhadap Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Amin.


