Senin (12 Agustus 2014): Tuhan Meminta Engkau Hargai Perjuanganmu! (Matius 17: 22-27)

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia  akan diserahkan ke dalam tangan manusia  dan mereka akan membunuh Dia  dan pada hari ketiga   Ia akan dibangkitkan.” Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea   Bait Allah kepada Petrus dan berkata: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” 

Jawabnya: “Memang membayar.” Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak?   Dari rakyatnya atau dari orang asing?” 

Jawab Petrus: “Dari orang asing!” Maka kata Yesus kepadanya: “Jadi bebaslah rakyatnya.  Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan  bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Matius 17: 22-27).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

DUNIA yang kita diami ini  menawarkan aneka kesenangan dan kenyamanan yang bisa diperoleh secara instan,  “tanpa keringat”.  Mental enak,  suka cari gampang,  pakai jalan pintas, menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa saja yang  diinginkan,  korupsi,  merampok,  mencuri semakin menjadi-jadi.  Keadaan itu  mengabaikan atau mengesampingkan nilai kerja keras dan jerih payah.

Dalam Injil hari ini,  pemungut bea Bait Allah datang kepada Petrus dan berkata: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Petrus menjawab: “Memang membayar”. Yesus berkata: “…pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kau pancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya,  maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada  mereka,  bagiKu dan bagimu juga!” (Matius 17:24-25.27).

Tampak di sini Yesus tidak langsung memberikan empat dirham kepada Petrus untuk membayar pajak Bait Allah bagi mereka (2 dirham untuk  Yesus,  2 dirham  untuk Petrus). Padahal sebenarnya Yesus dengan kuasa KeAllahanNya bisa melakukan itu secara Ajaib (“mukjizat, instan”). Tetapi Yesus tidak melakukannya. Yesus tetap  menghargai kerja, usaha, jerih payah, perjuangan, proses manusiawi Petrus (kita)  untuk mendapatkan “mukjizat” (hasil yang diinginkan atau diperjuangkan).

Yesus tetap menyuruh Petrus (kita)  untuk berjuang keras untuk  “memancing ikan” di tempat kerjanya sehari-hari sebagai nelayan. Kerja keras dan jerih payahnya (kita)  akan disempurnakan oleh Tuhan sendiri dengan berkat yang tidak terduga: Empat dirham didapat dari sana.  Suatu mukjizat terjadi di tempat kerjanya (kita). Tidak turun dari langit saja.  Hanya dengan kuat kuasa Allah Petrus, kita  mampu melakukan mukjizat itu.

Kita diajak  oleh Tuhan Yesus untuk  menghargai proses manusiawi untuk  bisa mendapat mukjizat.  Menghargai usaha dan kerja keras dalam hidup kita  saat ini di sini.  Tidak bermental instan. Tidak lekas menyerah atau putus asa.  Tidak suka cari gampang dan jalan pintas.  Berjuang dan bekerjalah bersama Tuhan.  Mukjizat pasti akan terjadi.

Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita  sekalian yang menghargai kerja keras dan jerih payah dalam hidup ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *