Senin (29 April 2024): Bukti Kasih akan Allah adalah Memegang dan Melakukan PerintahNya! (Yohanes 14: 21-26)

Dalam amanat perpisahanNya, Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Barangsiapa memegang perintah-Ku  dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.  Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku  dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Yudas,  yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku  dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur,  yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku,  Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu  kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yohanes 14: 21-26).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

“BARANGSIAPA memegang perintahKu dan melakukanNya, dialah yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia, dan akan menyatakan diriKu kepadanya …. Jika seorang mengasihi dia, dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia!” (Yohanes 14: 21.23).

Yesus mau menegaskan betapa pentingnya memegang perintahNya dan melaksanakannya: Mengasihi Allah dan sesama (saling mengasihi)! Menjalin relasi, hubungan, komunikasi cinta antara Tuhan, sesama, diri sendiri (cinta “segi tiga” yang  seimbang).

Penting adanya kedekatan, keakraban, keeratan, kebersamaan yang  seimbang dalam berelasi dan berkomunikasi dengan  Tuhan, sesama, diri sendiri. Di situlah  ruang, tempat Tuhan menyatakan diriNya kepada kita. Di situ Tuhan “berbuat besar” untuk kita. Di situ Tuhan “membuat mukjizat” untuk kita. Di situ Tuhan bisa mengabulkan doa dan harapan kita.  Di situ Tuhan menyatakan diriNya kepada kita.

Tuhan tidak main-main dengan kita. Mereka turun satu tim kuat (Bapa Putera, Roh Kudus) untuk datang kepada kita, dan mengasihi kita dan diam bersama-sama dengan kita. “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan kami datang kepadanya dan diam bersama-sama  dengan dia1″ (Yohanes 14:23).

Maka ciptakanlah dengan  sadar relasi yang baik dan benar dan intim dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri yang bisa menghasilkan buah-buah yang bisa dinikmati. Hasilkan buah keheningan. Keheningan menghasilkan buah doa (waktu, saat hening: misa harian, terutama wajib Misa Mingguan: Kuduskanlah Hari Tuhan).

Doa menghasilkan buah iman (percaya, pasrah penuh pada kuat kuasa Tuhan dan penyelenggaraanNya: Dia selalu beri yg terbaik dan terindah dlm hidup kita). Iman menghasilkan buah cinta kasih (mencintai Tuhan, sesama, diri sendiri: Tuhan mencintai  kita; beri yang terbaik dan terindah untuk kita, apapun  keadaan.

Kasih menghasilkan buah pelayanan (melayani Tuhan, sesama, diri sendiri: beri yang terbaik dan terindah). Pelayanan menghasilkan buah ketenangan, kedamaian, sukacita, kegembiraan, kebahagiaan (bersatu, ada bersama dengan  Tuhan, sesama, diri sendiri).

Itulah “buah-buah” yang diperlukan kalau mau Tuhan “menyatakan diriNya” kepada kita.  Selamat menanam, merawat, menghasilkan buah-buah  keheningan, doa, iman, harap, kasih (cinta), pelayanan, kebahagiaan/kedamaian. Tuhan pasti sudah, sedang, akan “menyatakan diriNya kepada kita.

Semoga dengan bantuan doa Santa Katarina dari Siena, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian. Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *