JAKARTA,KITAKATOLIK.COM–Setiap kita lahir dan ada di dunia ini bukan tanpa maksud dan tujuan tertentu yang ada dalam pikiran dan hati Tuhan. Setiap kita lahir dengan tujuan spesifik, baik untuk memuliakan Tuhan maupun untuk memperkaya kemanusiaan.
“Selain Ad maiorem Dei gloriam” (AMDG = demi kemuliaan Tuhan yang makin besar) yang merupakan motto para imam Jesuit, kita juga dipanggil untuk memberkati sesama dan menerangi hidup orang lain,” kata Romo Kunradus Badi Mukin, CSsR, saat memimpin Perayaan Ekaristi pemberkatan Kantor Hukum SRR dan HUT ke-59 Pengacara Senior Dr. Stephanus Roy Rening, di Kantor Hukum SRR, Jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Usia 59, kata mantan Pastor Paroki Santo Leo Agung, ini bukanlah waktu yang singkat. Berbagai pengalaman hidup telah dijalani, entah yang menyenangkan, membanggakan, menyedihkan dan penuh pergumulan.
“Tapi seperti kata Rasul Paulus, kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam seluruh perjalanan hidup yang dialami Pak Roy dan kita semua. Tuhan senantiasa mengasihi kita, apapun persoalan hidup yang dihadapi,” katanya.
Sementara terkait Bacaan Injil (perumpamaan tentant Pelita), Romo Kuns menegaskan bahwa kita adalah terang dan dipanggil untuk menerangi dunia dan memperkaya kemanusiaan. Saat dibabtis, jelasnya, ada satu ritus di mana seseorang menyalahkan lilin dari lilin Paskah lalu diserahkan kepada oang yang dibabtis atau walinya.
“Itu mau menunjukkan bahwa martabat kita adalah cahaya Kristus. Tujuan dari hidup kita adalah supaya nama Tuhan dimuliakan, juga agar kita menjadi cahaya bagi orang lain,” kata pastor beruara emas ini di hadapan puluhan hadirin.

Setelah Perayaan Ekaristi, Pastor Kuns berkelling memerciki seluruh ruangan Kantor Hukum SRR. “Semoga Tuhan menurunkan rahmat dan berkatNya atas kantor ini, sehingga mereka semua yang berkarya di tempat ini dapat membawa rahmat dan kebaikan bagi dan dengan orang lain,” katanya.
Tuhan selalu hadir
Dalam sambutannya, Dr. Stephanus Roy Rening menyampaikan bahwa ia sungguh merasakan kehadiran Tuhan yang penuh cinta di sepanjang perjalanan kehidupannya. Termasuk saat terberat dalam hidupnya ketika harus menjalani “retret” karena menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai penasihat hukum.
Meski kebebasannya direnggut, ia merasa tidak ditinggalkan sendirian. Meski di saat awal dia tak diperkenankan mengikuti Perayaan Ekaristi karena takut memengaruhi kliennya, dan karena itu hanya bisa mengikuti misa lewat layar kaca, Roy bersyukur karena di hari ke-79 ia diperkenankan menerima Tubuh Kristus dari Paroki Yakobus, Kelapa Gading.
Kunjungan pastor Paroki Leo Agung, umat serta rekan lainnya, sangat berarti baginya. “Itu pelayanan pastoral yang baik. Kita merasa Tuhan hadir waktu kita di penjara. Dan memang Tuhan memerintahkan kita untuk mengunjungi orang dalam penjara. ‘Ketika Aku di penjara, kamu mengunjungi Aku!’ Itu perintah Tuhan Yesus jadi kita harus laksanakan,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada keluarga intinya yang tetap kuat sukses melewati ujian yang berat ini. Terutama untuk sang istri yang bisa mengambil alih peran sebagai nahkoda keluarga. (Pmg).

