Buka Masa Puasa, Uskup Agung Jakarta Tegaskan Pentingnya Solidaritas dan Subsidiaritas

JAKARTA,KITAKATOLIK.COM—Memasuki masa Prapaskah yang akan diawali dengan Rabu Abu (14/2/2024) nanti, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan pentingnya prinsip solidaritas dan subsidiaritas dalam kehidupan gereja dan dinamika berbangsa.

“Kita adalah murid-murid Yesus Kristus yang hatiNya selalu tergerak oleh belas kasihan ketika Ia melihat penderitaan orang. Sabda Tuhan ini dapat menjadi  inspirasi untuk mendalami dan mewujudkan aksi nyata semangat solidaritas dan subsidiaritas  yang menjadi perhatian khusus kita sebagai umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 2024 ini,” tegasnya.

Menurut Kardinal, tema ini tak bisa dipisahkan dari Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta tahun-tahun sebelumnya yakni hormat terhadap martabat manusia (tahun 2022) dan kesejahteraan bersama (2023).

“Solidaritas dan subsidiaritas adalah cara bertindak untuk menciptakan kesejahteraan bersama yang dilandaskan pada rasa hormat terhadap martabat manusia yang luhur,” kata Bapa Uskup dalam pesan Pra Paskah yang dibacakan di seluruh Paroki se Keuskupan Agung Jakarta pada Sabtu dan Minggu (10-11/2/2024) sebagai pengganti kotbah.

Solidaritas

Lalu apa itu solidaritas yang merupakan salah satu tema utama Ardas 2024? Menurut Kardinal, solidaritas adalah ikatan-ikatan yang mempersatukan semua orang dan kelompok-kelompok sosial satu sama lain; ruang yang diberikan kepada kebebasan manusia demi perkembangan bersama,  tempat semua orang berbagi dan berperan serta.

“Prinsip solidaritas menunjukkan sifat sosial setiap pribadi manusia,  kesetaraan semua orang dalam martabat dan hak-haknya,  serta jalan bersama individu-individu dan bangsa-bangsa menuju kesatuan,” jelasnya.

Mengutip pandangan Santo Yohanes Paulus II, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa  solidaritas merupakan ketetapan hati yang kokoh untuk membagikan diri demi kesejahteraan bersama. Artinya demi kebaikan semua orang dan setiap individu karena kita semua bertanggung jawab untuk semua orang.

“Solidaritas  menyiratkan keberpihakan kepada saudara-saudari  kita yang miskin dan kurang beruntung lewat tindakan individu maupun inisiatif kolektif untuk menciptakan struktur sosial politik ekonomi yang lebih adil dan bersaudara,” tegasnya.

Subsidiaritas

Selain solidaritas, subsidiaritas jadi tema permunungan utama lainnya di Keuskupan Agung Jakarta pada 2024 ini. Subsidiaritas, menurut Kardinal, menjelaskan tugas dari tingkat yang lebih tinggi untuk membantu tingkat yang lebih rendah bila diperlukan.

“Prinsip ini menyatakan bahwa komunitas pada tingkat yang lebih tinggi tidak boleh mengambil alih tugas dan kewenangan komunitas  pada tingkat yang lebih rendah. Setiap orang bertanggung jawab dan berhak menentukan sendiri.”

Hal  yang sama juga berlaku untuk lembaga atau komunitas. Selama tanggung jawab mampu diemban dengan baik oleh seorang individu atau sebuah lembaga,  individu atau lembaga lain pada posisi lebih tinggi tidak boleh campur tangan ataupun mengambil alih tanggung jawabnya.

“Prinsip ini melindungi orang dari penyalahgunaan wewenang oleh individu atau lembaga yang lebih tinggi. Subsidiaritas mewajibkan individu atau lembaga yang lebih tinggi untuk membantu individu atau lembaga di bawahnya agar dapat memenuhi hak-hak dasarnya sebagai manusia yang bermartabat,” tegasnya.

Mengutip Paus Benediktus XVI, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa subsidiaritas pertama-tama adalah bantuan yang diberikan ketika individu-individu atau subjek sosial tidak mampu melakukannya sendiri.

Kreatif dan inovatif

Pada bagian akhir surat gembala prapaskahnya, Kardinal Suharyo meminta umat untuk terlibat aktif memajukan kesejahteraan bersama atau bonum commune.

“Kita perlu menemukan cara-cara yang kreatif inovatif untuk dapat terlibat dalam memperkuat solidaritas dan subsidiaritas guna menciptakan kesejahteraan bersama,” katanya.

Kepada umat  Katolik  yang terjun dalam bidang politik dan sosial kemasyarakatan, Kardinal menghimbau untuk ikut terlibat aktif dan tidak takut untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan,  solidaritas dan subsidiaritas untuk menciptakan kesejahteraan bersama sebagai warga negara Indonesia.

“Keterlibatan aktif umat Katolik dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kesejahteraan banyak orang sangat dihargai sejauh memungkinkan keterlibatan ini bisa dilakukan mulai dari struktur masyarakat yang paling bawah pada tingkat RT RW atau komunitas sekitar tempat tinggal hingga tingkat daerah dan nasional,” katanya. (Admin).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *