Dalam Gelar “Kemah Moderasi”, Direktur Jenderal Bimas Islam Kutip Pandangan Pastor Teolog Hans Kung

Dalam gelar “Kemah Moderasi”

MOJOKERTO,JAWA TIMUR, KITAKATOLIK.COM—Dalam gelar “Kemah Moderasi”, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam mengutip pandangan pastor sekaligus teolog Katolik Hans Kung tentang prasyarat perdamaian yang bermula dari perdamaian antar agama-agama.

“Tidak ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa perdamaian di antara agama-agama. Tidak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama. Tidak ada dialog antar agama tanpa penyelidikan atau investigasi tentang fondasi agama-agama,” ujar Dirjen Bimas Islam, Kementeria Agama Republik Indonesia Kamaruddin Amin mengutip pandangan teolog Katolik Hans Kung tersebut.

Teolog Hans Kung

“Kemah moderasi” merupakan sendiri merupakan kegiatan terkait moderasi agama yang diikuti penyuluh lintas agama di bawah Kementerian Agama dan berlangsung dari tanggal  28 – 31 Agustus 2022 di UBAYA Training Center (UTC) Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Selain penyuluh lintas agama, Kemah Moderasi juga diikuti perwakilan ormas keagamaan dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.

Ditambahkan Kamaruddin,  Kemah Moderasi bukan sekadar upacara sermonial semata melainkan untuk membangun komitmen dan fundamental dalam menjaga dan merawat kebhinekaan.

“Moderasi beragama bukan hanya diarusutamakan secara normatif tetapi bentuk implementatif dan manifestasi komitmen bersama untuk menjaga Indonesia, menjaga keberagamaan, menjaga NKRI, Pancasila dan UUD 1945,” kata Dirjen Bimas Islam ini saat membuka upacara Kemah Moderasi, Senin (29/8/2022) ini.

“Saya yakin dan sangat percaya apa yang kita lakukan merupakan seribu langkah untuk menjaga Indonesia, keragaman dan kebhinekaan. Ini adalah tugas kita bersama sebagai individu warga bangsa dan umat beragama,” tambahnya.

Jaga kebhinekaan

Sebagai seorang muslim, kata Kamaruddin, dengan keyakinan muslim dirinya tidak akan terganggu dengan agama lain. Moderasi juga bukan manifestasi  pendangkalan akidah.

“Sebagai muslim dengan keyakinan muslim, saya tidak akan pernah terganggu dengan agama lain. Ini penting supaya moderasi beragama tidak disalahpahami. Moderasi beragama bukan bermaksud melemahkan akidah. Saya yakin dan percaya, agama Islam adalah terbaik, begitu juga dengan umat Hindu, Kristen, Katolik, Buddha dan Khonghucu yang memiliki keyakinan bahwa agamanya yang paling benar dan menghantarkan menuju surga bertemu Tuhan, ” jelas Kamaruddin Amin.

Dia  pun mengajak kepada segenap peserta Kemah Moderasi untuk terus menjaga kebhinnekaan, saling menghormati dan toleran.

“Kemah moderasi bisa berperan maksimal dalam menjaga dan merawat keindonesiaan kita. Mari bersama menjaga Indonesia, menjaga agama, nilai-nilai agama dan menjaga Indonesia demi tercapainya cita-cita pembangunan dan kemerdekaan,”  tandas Kamaruddin.

Tampak hadir, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Mojokerto, Kakanwil Kemenag Jawa Timur Husnul Maram, Kakanwil Kemenag Jateng Mustain Ahmad, Kakanwil Kemenag Bali Komang Sri Marheni, Forkopimda Pemprov Jatim dan pejabat di lingkungan Kementerian Agama lainnya.

Pembukaan Kemah Moderasi 2022 diawali dengan defile perwakilan Jawa Barat, Banten, DKI, Jawa Tengah, Bali serta perwakilan masing-masing penyuluh dari Ditjen Bimas Kristen, Katolik, Budha dan Hindu se-Indonesia yang mengenakan pakaian adat nusantara. (Admin/kemenag).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *