KITAKATOLIK.COM—Mendiang Paus Fransiskus dikenal dunia sebagai pemimpin umat Katolik yang selalu memilih berpihak kepada yang terpinggirkan, seperti orang miskin, pengungsi, tahanan, korban perang dan selalu menampilkan kesederhanaan. Bahkan untuk prosesi pemakamannya, ia minta digelar dalam kesederhanaan, tanpa kemewahan sedikitpun.
Apa alasan utama sehingga Paus Fransiskus memilih jalan kepemimpinan dan keteladanan seperti itu? Dalam beberapa kesempatan, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa pilihan komitmen Paus Fransiskus itu tercermin dalam logo Paus Fransiskus yaitu “Miserando atque eligendo” yang artinya “Tuhan telah berkenan mengasihi aku dan akhirnya memilih aku!”
Logo itu, kata Kardinal Suharyo saat menahbiskan 5 imam Ordo Dominikan (OP/Ordo Pewarta) pada 22/2/2025 yang lalu di Paroki Curug-Santa Helena ), bermula dari pengalaman rohani yang dialami Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio saat ia berusia 17 tahun.

Saat menerima Sakramen Tobat, Fransiskus muda mendengar kotbah tentang panggilan Matius. “Ketika Yesus memandang Matius dengan mata penuh bekerahiman, Ia memanggil dia!” Pernyataan itu – Yesus memandang dengan mata penuh kerahiman – juga dirasakan Fransiskus. Ia mengalami saat itu, Tuhan Yesus memandangnya dengan penuh kerahiman.
“Itulah pengalaman dasar akan Allah yang dialami oleh Paus Fransiskus. Pengalaman itu jugalah yang merubah dirinya, membawa transformasi bagi pribadinya dan juga bagi institusi, dalam hal ini gereja yang dipimpinnya,” kata Kardinal Suharyo.
Pengalaman dasar pernjumpaan dengan Allah itu sama seperti pengalaman Simon saat mengakui Yesus sebagai Mesias. Bila sebelumnya dia dikenal sebagai Simon, setelah pengakuan, ia berubah menjadi Petrus. Begitu pun Yesus, yang sebelumnya disapa guru lalu berubah dengan Tuhan.
Transformasi pribadi dan institusi
Suharyo mencatat beberapa transformasi yang diperlihatkan Paus Fransiskus setelah pengalaman perjumpaannya dengan Allah yang maharahim.
Terutama pada saat menduduki Tahta Suci, transformasi itu terlihat jelas. Saat Paus merayakan ulang tahunnya, Paus Fransiskus tidak mengundang pejabat-pejabat tinggi gereja. Tapi ia mengundang para pengemis yang sehari-hari tidur di Lapangan Santo Petrus. Itu dilakukannya karena ingin menampakkan wajah Allah yang maha rahim.
Begitu pun pada saat Kamis Putih. Semula yang dicuci kakinya biasanya laki semua. Dan biasanya adalah tokoh-tokoh di paroki atau keuskupan. Sekarang beda. Paus Fransiskus mulai dengan tradisi yang berbeda. Yang dicucinya bukan hanya laki-laki tapi perempuan juga. Bukan hanya tokoh baik, orang yang dipenjara juga dicuci kakinya.
“Pengalaman akan Allah berbuah pada transformasi pribadi. Dan transformasi pribadi ini berbuah pada transformasi institusi yaitu gereja. Itulah yang kita saksikan pada jaman sekarang ini, ketika gereja katolik mengalami transformasi yang sungguh mendasar. Gereja yang berjalan bersama, gereja yang sedang berziarah menaburkan harapan. Itulah yang sedang terjadi di gereja katolik. Dinamikanya adalah perjumpaan dengan Tuhan, transformasi pribadi berbuah pada transformasi institusi,” kata Kardinal. (Paul MG).


