Jumat (4-7-2025): Setialah (Matius 9: 9-13)

Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9: 9-13). 

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.

TUHAN memanggil orang-orang yang diutusNya pada saat mereka melakukan rutinitas hariannya. Tuhan memanggil Musa ketika ia sedang menggembalakan ternak milik Yitro, mertuanya (Keluaran 31:10). Elisa dipanggil Tuhan sementara dia membajak dengan 12 pasang lembu (1 Raja-raja  19:19). Tuhan memanggil Daud menjadi raja ketika ia sedang menggembalakan ternak (1 Samuel 16:11-13).

Yesus memanggil kedua bersaudara, Simon dan Andreas, pada saat mereka sedang menebar jala untuk menangkap ikan. Kemudian Ia memanggil kedua bersaudara anak Zebedeus yakni Yohanes dan Yakobus yang sementara sibuk membersihkan jala ayah mereka dalam perahu (Matius 4:18-22).

Matius adalah seorang pemungut cukai. Dia adalah orang biasa saja, malah orang berdosa. Dia adalah orang “sakit” menurut pandangan mata orang kebanyakan berhubung pekerjaan rutinnya sebagai pemungut cukai dan selalu bergaul dengan orang-orang berdosa lainnya. Tetapi dia, justru dipanggil Tuhan untuk bekerja di ladangNya. Dia dipanggil untuk menjadi muridNya ketika dia sedang duduk dan sibuk di kantor bea cukai melakukan pekerjaan rutin sebagai pegawai pajak. Dia dipakai Tuhan untuk membawa karunia, rahmat dan berkat serta belaskasih Tuhan bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Matius dalam bahasa Ibrani “Mattai” berarti karunia dari Allah.  Dia yang adalah pemungut cukai, orang berdosa, dipanggil Tuhan untuk membawa belas kasih,  karunia, rahmat dan berkat bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya.

Kita pun dipanggil Tuhan “saat ini di sini” untuk melayani sesama di saat kita  sibuk dengan rutinitas kita  setiap hari. Pekerjaan hariaan kita “saat ini di sini”, betapapun kecil dan sederhana nilainya, adalah medan panggilan Tuhan bagi kita.

Melalui pekerjaam kecil dan sederhana bagaimanapun, kita dipanggil dan diutusNya untuk membawa karunia, belas kasih, rahmat dan berkat Tuhan bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Maka kita  diajak untuk menjadi “Mattai-Mattai  kecil”: menjadi pembawa karunia, rahmat, berkat, belaskasih dari Allah bagi  orang banyak dan lingkungan alam ciptaan lainnya melalui karya kita masing-masing.

Selamat merayakan dan menimba rahmat dan berkat Jumat Pertama bulan Juli 2025. Selamat membawa karunia, rahmat dan berkat serta belaskasih Tuhan bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang telah, sedang dan akan berjuang membawa karunia, rahmat dan berkat serta belaskasih Tuhan bagi orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya melalui pekerjaan rutin kita masing-masing.  Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *