RUTENG,KITAKATOLIK.COM—Kabar duka datang dari Paroki Santo Kristoforus, Waning, Keuskupan Ruteng. Romo Yohanes Syukur, romo Yonsi sapaan akrabnya, meninggal dunia sekitar pukul 16.10 Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA). Menurut keterangan otoritas medis, romo Yonsi diperkirakan meningggal karena serangan jantung.
Kepergiannya sangat mendadak. Seperti dilaporkan okebajo.com, pada pagi hari, Minggu (20/10/2024) pastor yang ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 2004, ini sempat memimpin Perayaan Ekaristi pada pukul 08.30 hingga pukul 10.00 WITA di Gereja Paroki Waning. Dilanjutkan dengan kegiatan kanonik di paroki.
Setelah istirahat, pada pukul 14.30 Wita, Romo Yonsi merasa ada yang tidak beres dalam tubuhnya. Ia tak langsung ke rumah sakit. Tapi meminta karyawan pastoran, Foni Ejos untuk membuatkan minuman temu lawak (ramuan kunyit dan gula merah). Romo mengaku telah muntah dua kali.
Setelah minum ramuan tradisional tersebut, keadaan terasa belum membaik. Ia lalu meminta karyawati pastoral, Yohana Foni Ejos untuk membuat minuman air hangat dicampur dengan minyak Nona Mas. Lalu kembali muntah. Perutnya lalu dibaluri minyak kayu putih.
Setelah itu Romo Jonsi muntah lagi dan meminta bantuan kepada karyawan tersebut untuk mengantar Romo ke toilet, tetapi Romo tidak keluar wc-nya.
Selanjutnya Romo Yonsi meminta bantuan kepada karyawan Pastoran tadi untuk memgambilkan minyak kayu putih lalu menggosokannya pada bagian perut. Ia masuk kamar, berbaring. Tak lama, ia bangun lagi dan berkeliling pastoran.
“Saya mau mati”
Kemudian dia berbaring di kursi sofa di belakang rumah pastoran. Dan lagi-lagi meminta pantuan karyawan pastoran untuk memijit tanggannya dan mengambil obat ramuan barak, terbuat dari tepung dan daun. Ia kemudian memegang jari karyawan tadi kemudian dimasukan ke dalam mulut Romo sambil mengepalkan tangan kirinya dengan kuat.

Saat itu dari mulut Romo keluar busa dan matanya memutih. Dalam kondisi seperti itu, Romo lalu meminta karyawan pastoran tadi agar duduk di sampingnya.
“Duduk sini sudah, saya mau mati!” katanya. Melihat kondisi Romo seperti itu, karyawan pastoran tadi berteriak sehingga orang-orang yang sedang berada di dalam Gereja datang ke Pastoran kemudian membawa Romo ke Puskesmas Waning sekitar pukul 16.00 Wita.
Sekitar pukul 16.10 ia romo Josni tiba di Puskesmas. Dan segera diberikan pertolongan. Tapi tak efektif. Penanggungjawab Puskesmas mengonfirmasi bahwa romo Yonsi diduga telah meninggal saat masih di pastoran atau dalam perjalanan menujur Puskesmas.
Sekitar pukul 18.00 WITA, jenazah Romo Yonsi dibawa kembali ke Gereja Paroki Waning untuk disemayamkan.
Suka bernyanyi
Kepergian mendadak Pastor Yonsi sungguh menyisakan duka yang sangat mendalam bagi umat Paroki Santo Kristoforus Waning, Keuskupan Ruteng. Mereka mengalami pastor Yonsi sebagai pribadi humoris, rendah hati, mudah bergaul.
Renungannya ringan tapi aplikatif. Mudah dicerna umat. Sesekali ia membawakan kotbah dan nasihat-nasihanya dalam bahasa daerah.
Dalam kenangan teman kelasnya Alfa Edison SF., almarhum jago dalam bermain sepak bola, humoris dan suka musik. Suaranya tinggi nyaring. “Lagu Franky & Jean adalah lagu-lagu kesukaan romo John saat bermain di Rita-Band,” cerita PNS pada Direktorat Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia ini.
Selamat jalan romo. Bahagialah dalam keabadian. (Admin/dbs).

