Lakukanlah Kewajiban Agama untuk Perkenanan Tuhan, Bukan untuk Pamer

TANGERANG,KITAKATOLIK.COM—Melakukan kewajiban agama —  seperti berdoa, berpuasa dan memberi sedekah – bertujuan untuk mendapatkan perkenanan Tuhan, bukan untuk pamer kesalehan, mendapatkan pujian dan popularitas.

Hal itu ditegaskan Pastor Lukas Sulaeman OSC, Selasa (13/2/2024) petang, dalam kotbahnya saat memimpin misa Rabu Abu yang  dilaksanakan sehari sebelum waktunya gegara Pemilu yang jatuh pada 14 Februari.

“Doa,  amal dan pantang atau puasa itu merupakan ekspresi kesalehan yang bernilai tinggi.  Yesus mencela karena dasar dan  tujuan mereka keliru. Tujuannya untuk pamer, pujian dan popularitas. Bila demikian, mereka sudah mendapatkan upahnya, yaitu dipuji orang. Tujuan melakukan kewajiban agama itu adalah mendapatkan perkenanan Tuhan,” kata pastor  Paroki Curug-Santa Helena  ini.

Sayangnya, manusia mudah  tenggelam dan terjebak dalam sensasi. Suka mempertontonkan sesuatu. Apalagi di jaman media sosial yang memberikan peluang besar bagi orang untuk pamer, termasuk pamer hal dan kegiatan yang harusnya dilakukan di tempat tersembunyi.

Transformasi diri

Menurut romo Lukas, masa Pra-Paskah merupakan sebuah retret agung, kesempatan emas untuk melakukan pertobatan dan metanoia, mentranformasikan diri untuk makin baik lagi dalam iman, harapan dan kasih.

“Hari ini kita mendapatkan abu di dahi kita. Abu itu disamakan dengan debu tanah.  Itu kiasan yang berkaitan dengan  kesengsaraan, kerendahan hati di hadapan Tuhan. Juga ekspresi sedih karena telah berdosa. Abu juga sering dipakai sebagai sarana untuk membersihkan” urainya.

Rabu Abu membuka masa pantang dan puasa selama 40 hari. Selama periode waktu ini, kita berusaha  untuk semakin layak di hadapan Tuhan. Mulai berbela rasa bagi yang lemah, miskin dan disfabel. Perkuat solidaritas dan subsidiaritas  untuk kesejahteraan bersama.

“Kita akan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung atau Jumat Suci. Pantang dilakukan di hari-hari jumat lainnya. Puasa berarti makan kenyang sekali saja untuk yang berumur 18 sampai 60 tahun. Pantang bisa tentukan sendiri, baik secara pribadi maupun dalam komunitas. Sebut misalnya pantang jajan, pantang tuak dan sebagainya,” jelas pastor Lukas.

Secara jasmaniah, kata pastor Lukas,  puasa kita memang ringan secara jasmaniah. Tapi yang terpenting adalah perubahan batin. Untuk memperbaikii diri dan didamaikan serta dikuduskan bagi  Allah.

Sebelas anjuran Puasa Paus Fransiskus

Mengakhiri kotbahnya, pastor Lukas menganjurkan umat untuk mengikuti 11 anjuran Paus Fransiskus yang bisa dilakukan selama masa puasa ini. Apa saja itu?

Satu, puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dan ubahlah itu dengan kata-kata yang manis dan lembut. Kedua, puasa kecewa dan tidak puas dan penuhilah dirimu dengan rasa Syukur.  Ketiga, puasa marah dan penuhi dirimu dengan sikap taat dan sabar. Keempat, puasa  pesimis dan penuhi dirimu dengan optimis.

Kelima, puasa khawatir dengan percaya kepada Tuhan. Keenam, puasa  mengeluh dan meratap dengn menikmati hal-hal yang sederhana dalam kehidupan. Ketujuh, puasa stress dengan penuhi diri dengan doa. Kedelapan, puasa dari kepahitan dan kesedihan dengan memenuhi hati dengan sukacita.

Kesembilan, puasa egois dengan membangun dan memenuhi bela rasa dengan orang lain. Kesepuluh, puasa dari sikap tidak bisa mengampuni sesama dengan pendamaian dan pengampunan yang penuh. Dan kesebelas, puasa  berbicara banyak dan penuhi dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain. (Paul MG).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *