Minggu (27-7-2025), Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia: Waspadalah terhadap Ketamakan! (Lukas 12: 13-21)

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” 

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” 

Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 

Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 

Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 

Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu,  dan apa yang telah kausediakan,  untuk siapakah itu nanti?  Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Lukas 12: 13-21).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Todo, Keuskupan Ruteng.

“BERJAGA-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,  hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu!” kata Yesus dalam Injil hari ini (Lukas 13:15).

Harta benda atau kekayaan duniawi yang diwujudkan dalam perbuatan baik untuk Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya adalah suatu perbuatan yang dilandasi iman.  Perlu disadari supaya jangan “tamak” atau rakus, dalam arti harta kekayaan  itu dipandang sebagai segalanya “untuk diri sendiri” dalam hidup ini,  hanya kaya di hadapan atau untuk diri sendiri. Ini namanya “orang kaya yang bodoh”, kata Yesus dalam Injil hari ini.

Karena keselamatan itu bersifat kekal,  maka hal-hal yang profan (harta kekayaan duniawi) tidak bisa menjamin untuk sampai pada keselamatan. Harta kekayaan bukanlah sumber keselamatan atau tujuan akhir hidup kita.

Harta kekayaan adalah sarana dan bersifat sementara saja. Kepada seorang kaya yang  menimbun kekayaannya dalam lumbung dalam perumpamaan hari ini,  Firman Allah berkata: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu,  dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti!” (Lukas 13: 20).

Jika harta kekayaan kita dimanfaatkan juga untuk kepentingan Tuhan dan sesama  dan lingkungan alam ciptaan lainnya, maka harta kekayaan itu bernilai tinggi karena bisa mendekatkan diri kita dengan Tuhan dan menjadi sarana untuk menyalurkan rahmat dan berkat serta kesejahteraan atau kebahagiaan bagi sesama.

Itu namanya “orang kaya yang pintar”. Hidup mereka berguna, bagi Tuhan, sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. Hidup mereka tidak kehilangan pengharapan. Meski fisik lemah, tapi tetap kuat dalam pengharapan, tetap berguna untuk Tuhan dan sesama dan lingkungan alam ciptaan lainnya. “Berbahagialah mereka (orangtua, kakek nenek dan Lansia) yang tidak kehilangan pengharapannya!” (Sirakh 14:2)  adalah Pesan Paus Leo IV untuk Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia ke-5 hari ini.

Persoalannya sering kali  ketika orang (kita?) sudah berlimpah-limpah  harta kekayaannya,  ia tidak semakin murah hati,  tetapi semakin  tertutup  hati untuk membagi kasih  untuk  kepentingan Tuhan dan sesama. Sudah banyak contoh di dalam masyarakat di mana harta kekayaan membuat orang yang berharta kekayaan itu menjadi orang yang jahat,  jauh dari Tuhan dan sesama.

Ingatlah bahwa harta kekayaan  bukanlah segala-galanya. Maka tetaplah memiliki harta iman. Kita perlu sadar dan hati-hati agar tidak dikendalikan oleh harta kekayaan, namun sebaliknya mampu menggunakan juga itu dengan  “pintar dan baik” untuk kepentingan Tuhan dan sesama.

Bunda Maria adalah tokoh teladan bagi kita dalam hal  kaya di hadapan Tuhan dan sesama karena imannya yang kuat kokoh. Selamat menjadi orang kaya yang pintar. Selamat menjadi Kakek Nenek dan Lansia yang pintar dan penuh pengharapan! Selamat merayakan Hari Kakek-Nenek dan Lansia untuk kita semua.

Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang menjadi orang kaya yang pintar. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *