Pimpin Rekoleksi WK Ranting Fransiska, Pastor Kornelius Maro: Wanita Dan Pria Semartabat, Khas Dalam Tanggung Jawab

CISARUA, JAWA BARAT,KITAKATOLIK.COM—Sesuai dengan tujuan penciptaan, pria dan wanita sesungguhnya semartabat. Wanita tidak lebih rendah dari pria, demikian pun sebaliknya, pria tak lebih rendah dari wanita.

“Kitab Kejadian 2 ayat 18 menegaskan bahwa Allah menghendaki agar manusia itu tak seorang diri saja. Dia akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia! Sepadan maksudnya semartabat. Jadi wanita ditempatkan sejajar untuk menjadi penolong bagi pria, demikian juga sebaliknya,” kata Pastor Kornelius Maro, SVD dalam Rekoleksi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Ranting Santa Fransiska, Paroki Curug-Santa Helena, Tangerang.

Pastor Kornelius Maro, SVD

Meski sederajat atau semartabat, kata pastor Maro, pria dan wanita memiliki peran khas masing-masing. Tak bisa ditukar-tukar. Peran sebagai ibu yang melahirkan anak misalnya, adalah peran khas wanita, bukan pria.

“Suami tak bisa bilang engkau lahirkan anak pertama, saya anak kedua atau sebaliknya,” seloroh pastor yang ditempatkan oleh Provisial SVD Regio Jawa sebagai  pembina khalwat atau rekoleksi di Rumah Khalwat SVD Tugu Wacana Cisarua, Bogor, ini.

Digelar Sabtu hingga Minggu (10-11 Oktober 2026), rekoleksi ini  mengusung tema besar: “Wanita yang Berakar dalam Kristus Dan Berbuah dalam Kasih”. Selain renungan bertema “Mengenal Identitas Diri Dalam Kristus” dan “Panggilan Wanita dalam Keluarga Dan dalam Gereja”,  rekoleksi ini diisi juga dengan Doa Rosario, Adorasi Sakramen Maha Kudus, Misa dan permainan kelompok yang bertujuan meningkatkan kekompakkan dan kebersamaan. Tak ketinggalan arisan dan sharing antara anggota WKRI.

Selain Kitab Suci, para bapak gereja juga menegaskan kesetaraan antara pria dan wanita. Tuhan menciptakan wanita dari rusuk Adam agar menjadi penolong yang sepadan dan sejajar.

“Jika Tuhan menginginkan wanita berkuasa atas pria,  Tuhan menciptakan wanita dari tulang kepala Adam. Adaikata Ia merancang wanita sebagai budak pria,  Ia akan membuatnya dari tulang kakinya.  Tapi Ia  menciptakan dari rusuk pria karena ia ingin dia menjadi penolong yang setara,”  katanya mengutip pernyataan Bapa  dan Pujangga Gereja, Santo Agustinus.

Kesejajaran martabat itulah, kata pastor Maro, membuat pria dan wanita dapat membangun relasi atas dasar cinta.

Tiga Jabatan, Panca Tugas

Di sesi pertama, pastor Maro menyebut identitas sejati setiap umat kristiani, yaitu sebagai ciptaan baru, Anak Allah dan Saudara Yesus. “Yesus adalah saudara sulung kita. Dan di dalam Kristus, setiap kita memiliki martabat sebagai imam, nabi dan raja. Imam yang menguduskan, nabi yang mewartakan dan raja yang melayani,” ujarnya.

Sebagai umat beriman, setiap wanita juga dipanggil untuk mengemban panca tugas gereja yaitu leyturgia (liturgi, doa), koinonia (persekutuan), diakonia (pelayanan), keryma (pewartaan),   dan martiria (memberikan kesaksian).

Dijelaskan, satu aksi yang sama, bakti sosial (Baksos) misalnya, bisa masuk dalam tugas yang berbeda, tergantung sasarannya.

“Kalau ibu-ibu WK melakukan baksos ke tengah umat kristiani yang miskin, itu disebut diakonia. Tapi ketika yang diberikan bantuan itu adalah kelompok non-kristiani, maka itu merupakan sebuah aksi martiria, kesaksian tentang Kasih Kristus,” jelas pastor kelahiran Maumere, Flores, NTT ini.

Pertama kali

Setelah lebih dari dua puluh tahun berdiri di tingkat Paroki Curug, Santa Helena, rekoleksi ini merupakan rekoleksi pertama yang digelar di tingkat wilayah, khususnya Wilayah Sari Bumi.

Di mata peserta, rekoleksi ini merupakan kesempatan untuk memupuk kebersamaan dan kekompakan dalam melayani.

“Sesuai dengan tema utama ‘Wanita yang Berakar dalam Kristus, Berbuah dalam Kasih’, kita mendapatkan kesempatan untuk menyadari identitas kita yang berakar dalam Kristus dan didorong untuk ambil bagian dalam tugas-tugas yang diberikan, baik di internal gereja, maupun di dalam masyarakat,” kata Maria Febriana Endah,  Ketua WK Ranting Santa Fransiska.

Margeretha Orun, peserta paling senior dalam rekoleksi ini, merasa disegarkan oleh butir-butir permenungan yang disampaikan Pastor Maro. Selain isinya yang inspiratif, gaya penyampaiannya hidup, diselingi humor, sehingga tak mengundang kantuk meski durasinya lama.  (Paul MG).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *