Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita!” (Markus 9: 38-40).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
KASIH dan kebijaksanaan Allah mengarah kepada keselamatan semua ciptaan, tidak ada yang dikecualikan atau dikucilkan. Karena itu, setiap orang, apapun kelompok agamanya, harus selalu mengupayakan, mengutamakan, membawa kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua. Kelompok (agama) dibutuhkan agar setiap anggota dapat saling meneguhkan, bukannya untuk saling mengabaikan, apalagi merendahkan dan mengucilkan.
Dalam Injil hari ini, Yesus tidak menekankan “kelompok (agama)”, tetapi justru lebih menekankan “tindakan” yang dilakukan. Artinya tindakan yang dilakukan seseoranglah yang menentukan identitasnya sebagai bagian dari kekompok.
Kasih Allah bersifat universal, tidak pandang kekompok (agama). Jika kasih Allah bersifat universal, jika tujuan kita adalah pada kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bersama, mestinya perbedaan kelompok tak akan pernah menjadi persoalan. Setiap orang perlu diterima apapun kelompoknya jika ia melakukan kebaikan umum/bersama.
Kesombongan pribadi cenderung meluas dalam kesombongan kekompok. Inilah yang tanpa disadari dilakukan murid Yesus untuk menekan orang yang menggunakan nama Yesus untuk berbuat baik. “Jangan kamu cegah dia!” kata Yesus.
Yesus mengajak kita, (kelompok apa saja, atau kelompok agama apa saja) untuk rajin berbuat baik dan kasih! Hargailah perbuatan baik orang lain tanpa memandang aneka perbedaan.
Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang rajin berbuat baik dan menghargai perbuatan baik orang lain. Amin.


