“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.
Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”
Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu”. (Matius 21: 33-34).

Oleh: Romo John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng.
KITA sering kurang bahkan tidak menyadari kebun anggur kita sendiri. Dan siapa sebenarnya pemilik kebun anggur kita itu? Apa kebun anggur kita saat ini di sini?
Kebun anggur kita adalah hidup dan pekerjaan, pelayanan kita saat ini-di sini. Dan kebun anggur kita itu pemiliknya adalah Tuhan Allah sendiri. Pemilik kebun anggur kita (hidup, karya, pelayanan kita) adalah Tuhan Allah sendiri. Kita adalah pekerja, penggarap, buruh, orang sewaan, pelayan, hamba dari Tuhan Allah yang hanya melakukan “pekerjaan” Allah sendiri. Pekerjaan Allah itu dilakukan untuk keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri. Tidak lebih dan tidak kurang. Pas untuk hidup baik, aman, selamat dan bahagia; bukan untuk mendapat harta kekayaan, uang, pangkat, kuasa, prestasi, prestige dan lain-lain semacam itu.
Kita hidup di dunia ini hanyalah untuk sesaat saja, sementara saja, satu kali saja dan sewaktu-waktu Tuhan Allah memanggil kita untuk kembali. Namun sering kali kita kurang atau tidak menyadari ini. Di atas panggung dunia yang sementara ini, kita seringkali lebih menyukai menjadi “tuan-tuan kecil”, “tuhan allah-tuhan allah kecil” yang melawan “Tuhan Allah yang sesungguhnya” (saling menganiaya, menangkap, membunuh)!
Pertanyaan dasar untuk kita semua, tanpa kecuali adalah: Untuk apa sebenarnya kita hidup di atas panggung dunia ini saat ini di sini? Mau cari apa sih? Cobalah jawab! Bukankah untuk mencari hidup bahagia? Tidak kurang orang berada/kaya raya, berpangkat/berjabatan strategis yang hidupnya tidak atau kurang bahagia? Apa gunanya hidup kalau begitu jadinya? Apa gunanya memiliki seluruh dunia, tapi tidak bahagia?
Santo Ignasius Loyola mencoba memberi jawaban atas pertanyaan tujuan kita hidup adalah “untuk memuliakan Tuhan Allah”. Maka segala sesuatu yang menghalangi atau menghambat tujuan itu harus dilepaskan, harus dipotong. Namun yang terjadi adalah justru yang sebaliknya. Kita mengkhianati Tuhan Allah.
Kita mau menjadi “Allah di dunia ini”. Kita cenderung mau menggenggam erat “banyak perkara duniawi ini” dan asyik melakukan dosa, kesalahan dan kejahatan sebagai bentuk pengkhianatan kita kepada Tuhan Allah yang seharusnya kita muliakan lewat perbuatan, pekerjaan, pelayanan kita saat ini di sini.
Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur dalam Injil hari ini merupakan kisah tentang pengkhianatan manusia (kita) kepada yang empunya kebun anggur yakni Tuhan Allah sendiri, yang telah menyediakan segala-galanya untuk dinikmati demi hidup yang baik, selamat, bahagia.
Para penggarap (kita) malah mau merebut kuasa Allah untuk menjadi “allah saat ini di sini”, menganiaya bahkan mematikan, membunuh Tuhan Allah. “..Tetapi penggarap-penggarap kebun anggur itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu…mereka menangkapnya (ahli waris) dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya” (Matius 21:35.39).
Dengan perumpamaan ini Yesus mau menunjukkan siapa diriNya, Juru Selamat yang mati untuk orang-orang yang mengkhianati Dia. Kita diajak untuk kembali ke hakekat dasar tujuan hidup kita, tujuan kita diciptakan dan tujuan hidup kita. Kebahagiaan hidup adalah harga mati!
Selamat menjadi Kebun Anggur dan penggarap kebun anggur yang baik dan bertanggung jawab, di mana kita bisa mencapai dan menikmati tujuan hidup kita yang sesungguhnya ialah memuliakan Tuhan Allah dan hidup yang happy selalu.
Semoga dengan bantuan doa Bunda Maria dan Santo Yosef, Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati kita sekalian yang selalu berjuang menjadi “kebun anggur dan penggarap kebun anggur” yang baik dan bertanggungjawab . Amin.


