JAKARTA,KITAKATOLIK.COM—Miskin di hadapan Allah merupakan salah satu kualitas spiritual yang oleh Tuhan Yesus dijanjikan akan memperoleh Kerajaan Allah. “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga!” (Matius 5:3). Dan salah satu ciri utama mereka yang memiliki kualitas sprititual ini adalah rajin berdoa, baik melalui keikursertaan dalam Perayaan Ekaristi maupun ulah kesalehan lainnya.
“Orang yang miskin di hadapan Allah itu selalu merasa dirinya bergantung penuh pada Rahmat Tuhan, merasa tak punya apa-apa, sehingga mereka selalu datang terus-menerus pada Tuhan, baik dalam Perayaan Ekaristi maupun bentuk-bentuk doa lainnya,” kata Romo Eduard Calista Ratu Dopo SJ dalam homilinya saat Perayaan Ekaristi mengenang 40 hari berpulangnya Mama Maria Dhone, ibunda terkasih Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Uskup Keuskupan Maumere, Flores pada Jumat (19/7/2024) malam di Jakarta.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Ewaldus, Ketua Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia yang kebetulan sedang berkegiatan di KWI. Dihadiri seribuan umat, Perayaan Ekaristi ini diiringi koor dari Ngada Ine Sina Choir (NISC), pimpinan dr Sisca Weri.
Pendoa
Pastor Edu menjelaskan bahwa ia mengenal mama Maria Dhone sebagai seorang teladan pendoa. Bahkan pastor kelahiran Bajawa, Flores, NTT ini telah menyaksikan kebiasaan berdoa mama Maria Dhone dan para orangtua lainnya, sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
“Mama Mia itu selalu misa pagi. Padahal kita tahu, Bajawa itu dingin sekali. Kalau kita masih punya keinginan untuk pergi misa di pagi yang sangat dingin, itu butuh pengorbanan yang besar dan tentu pahalanya juga besar,” kata pastor Edu.

Mereka, tambah romo Edu, telah banyak yang meninggal dan menghilang dari Bajawa. Tapi mereka pergi setelah memberikan kesaksian mereka kepada anak dan cucu mereka, terutama dalam hal kehidupan doa.
Semasa hidupnya, mama Mia memang dikenal sebagai wanita pendoa yang setia. Bukan hanya pendoa, tapi juga rasul atau pribadi yang selalu mengajak orang lain untuk turut serta berdoa dengan tekun. Sejak tahun 1980-an telah masuk dalam kelompok doa Koronka dan selalu membagi-bagikan sarana doa koronka yang menyerupai kalung agar orang lain turut serta dalam devosi ini.
“Tiap jam 15.00, bapak dan mama selalu mendoakan doa koronka. Itu wajib buat mereka berdua. Sementara kita semua wajib ikut doa rosario setiap malam bersama bapak dan mama,” cerita Adelina Moi, putri keempat keluarga ini yang tinggal bersama orangtuanya. (Paul MG).


