LEMBATA,KITAKATOLIK.COM—Romo Marianus Hali Wuwur, Imam Keuskupan Larantuka, Flores, NTT kembali ke Rumah Bapa di Sorga, Minggu (25/1/2025) siang karena penyakit yang dideritanya. Kembalinya pastor yang baru setahun menjalani hidup imamatnya ini sungguh membawa kedukaan besar bagi keuskupan yang digebalai oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung Pr ini.
Romo Marno, begitu ia biasa disapa, baru saja ditahbiskan sebagai imam diosesan oleh Uskup Fransiskus Kompong Kung pada 17 Oktober 2025 yang lalu di tempat kelahirannya. Sebagai motto tahbisannya, ia memilih Lukas 24: 18, “Apakah engkau orang asing?”
Lewopenutung
Romo Marno lahir di Lewopenutung pada 1 September 1997. Ia adalah anak kedua dari enam bersaudara, buah kasih, pasangan Konrardus Dori Wuwur dan almarhumah Agnes Ukung Melting.
Romo Marno dibesarkan dalam keluarga sederhana, umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Lamalera. Pendidikan dasar ditempuhnya di TKK St. Maria Goreti Lewopenutung, SDK Lewopenutung dan SMPK APPIS Lamalera.
Merasa terpanggil, Marno kecil memilih Seminari San Dominggo Hokeng sebagai Lembaga pendidikan imam pertamanya yang ditempuh dari tahun 2012–2016.
Tertarik dengan gaya pelayanan para romo diosesan, ia pun menetapkan dirinya untuk dididik sebagai calon imam projo. Mengikuti Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Himotiong, Ritapiret, bersama teman-teman seangkatannya, ia menerima Busana Rohani (pakai jubah) pada 21 Mei 2017 sebagai tanda kesiapan mengikuti Kristus secara total.
Pemuda Marno kemudian melanjutkan Filsafat di STFK Ledalero (2017–2021), kemudian Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di SMAS Katolik St. Darius Larantuka (2021–2023). Selepas TOP, ia lanjut studi Teologi di IFTK Ledalero pada tahun 2023–2025.
Pada 6 Juni 2025, frater Marno mengikrarkan Sumpah Selibat pada 6 Juni 2025. Dan pada 8 Juni 2025, ia menerima Tahbisan Diakon oleh Mgr. Silvester San, Uskup Denpasar. Masa diakonat dijalaninya di Paroki St. Wilhelmus Ledoblolong. (Admin/dbs).


