KITAKATOLIK.COM—HARI ini (1/9/2026), umat Katolik Indonesia memasuki Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Selama empat minggu, minimal 4 kali dalam bulan atau seminggu sekali, umat Katolik berkumpul di Kelompok Umat Basis (lingkungan) atau Kelompok Umat Basis (KUB), untuk bersama-sama bergumul dengan Kitab Suci.
“Yesus Guru yang Penuh Kuasa, Wajah Yesus dalam Injil Matius” telah ditentukan sebagai tema utama dari BKSN 2026 ini.
Menurut Mgr. Silvester San, Uskup Delegatus Kitab Suci Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Bulan Kitab Suci Nasional merupakan momentum berahmat bagi umat Katolik untuk makin mendekatkan diri dan mencintai Sabda Allah dengan mendengarkan dan menghidupiNya dalam realitas kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Mengapa Bulan Kitab Suci Jatuh pada Bulan September? https://www.kitakatolik.com/mengapa-bulan-kitab-suci-jatuh-pada-bulan-september/
“Gereja senantiasa mengajak umat untuk kembali kepada Kitab Suci, sebab melalui sabdaNya, Allah sendiri berbicara, menuntun dan membentuk hidup umatNya!” kata Uskup Keuskupan Denpasar ini.

Ditambahkan, materi BKSN setiap tahun disiapkan dengan sungguh-sungguh oleh Lembaga Biblika Indonesia (LBI) sebagai sarana pastoral gereja, agar umat makin akrab dengan Sabda Allah dan menjadikannya dasar hidup sebagai seorang beriman.
“Tema-tema BKSN dirumuskan secara khusus baik tematis maupun kontekstual untuk menanggapi kebutuhan Gereja dan tantangan aman, sehingga Sabda Tuhan sungguh menjadi terang dan kekuatan bagi umat beriman,” tambahnya.
Guru yang Penuh Kuasa
Terkait tema BKSN tahun 2026 ini, kata Uskup San, umat diajak untuk menatap kembali wajah Yesus sebagai Guru Ilahi yang mengajar bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan kuasa kasih, kuasa kebenaran, dan kuasa keselamatan.
“Yesus tidak hanya memberi pengajaran, tetapi juga menghadirkan transformasi hidup. Ia mengajar dengan otoritas ilahi yang memerdekakan manusia dari dosa, ketakutan, dan keputusasaan,” tukasnya.
Dalam Injil Matius, tambah Uskup San, kita melihat sosok Yesus sebagai Guru yang menggenapi hukum Taurat. Dia mengajar dengan kewibawaan ilahi, berbeda dari para ahli Taurat. Yesus mengajar dengan hidup-Nya sendiri. Karena itu, sabda yang Ia sampaikan bukan sekadar pengetahuan rohani, melainkan jalan hidup menuju keselamatan.
“Sabda Yesus mengubah hati, membentuk karakter, dan menuntun manusia kepada relasi yang benar dengan Allah dan sesama,” tambahnya.
Dia melanjutkan, seruan Allah Bapa di Gunung Tabor, “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (Matius 17:5), menjadi undangan bagi seluruh Gereja untuk kembali belajar menjadi murid. Mendengarkan Yesus berarti membuka hati, membiarkan sabda-Nya menegur, menghibur, mengarahkan, dan menguatkan hidup kita.
“Di tengah dunia yang diwarnai kebisingan, opini, hoaks, dan hal-hal negatif lainnya, yang sering menjauhkan manusia dari kebenaran, Gereja mengajak umat kembali kepada satu suara utama: Suara sang Guru sejati, Yesus Kristus,” tambahnya. (Pmg/dbs).


