
JAKARTA,KITAKATOLIK.COM–Di bawah gelap malam yang merayap di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Senator Maya Rumantir hadir memberikan penghormatan terakhirnya di hadapan peti jenazah Dr. (H.C.) Martha Tilaar pada Rabu malam, 14 Oktober 2026.
Kehadiran srikandi parlemen yang didampingi oleh kakak kandungnya, Ibu Inneke Rumantir, di Rumah Duka Patra Kuningan Utara ini bukan sekadar pelayatan formalitas. Kehadiran mereka merupakan sebuah refleksi mendalam atas berpulangnya seorang tokoh kemanusiaan bangsa sekaligus wujud keintiman spiritual antartokoh perempuan hebat. Bagi Maya, kepergian sang pelopor kecantikan berbasis kearifan lokal ini adalah hilangnya kiblat perjuangan kaum wanita yang telah mengabdikan seluruh hidupnya demi mengangkat derajat sesama.
Suasana syahdu dan penuh duka menyelimuti rumah duka. Lantunan doa terdengar lirih di antara barisan karangan bunga yang memenuhi pelataran rumah, mengiringi kepergian sosok yang meninggalkan duka mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Peristiwa duka yang terjadi di bulan Oktober ini terasa kian syahdu karena bertepatan dengan momentum bulan Rosario, membawa ketenangan spiritual tersendiri dalam suasana berkabung. Bagi Senator Maya Rumantir, momen ini juga membangkitkan kenangan indah yang tak terlupakan sepanjang masa. Ia mengenang kembali saat pernikahannya 22 tahun silam, di mana almarhumah Martha Tilaar memberikan sebuah kado terindah yang selalu membekas dalam hidupnya.
Sosok Martha Tilaar di mata Maya Rumantir bukan sekadar pengusaha kosmetik yang sukses besar. Lebih dari itu, almarhumah merupakan ikon pergerakan perempuan modern yang memiliki visi kemanusiaan sangat kuat. Hubungan erat yang terjalin di antara kedua tokoh ini bukanlah sebuah kedekatan yang instan.
Sejak empat dasawarsa lalu, Senator Maya Rumantir selalu aktif membangun komunikasi intensif dengan almarhumah Martha Tilaar atas fondasi kesamaan visi yang kuat. Selama 40 tahun, keduanya konsisten bertukar pikiran dan menyelaraskan langkah demi melahirkan program-program kemanusiaan nyata yang berdampak luas bagi masyarakat, memperkuat ketahanan moral, budaya, serta sosial masyarakat Indonesia.
Di hadapan awak media,

Senator Maya Rumantir menegaskan bahwa Martha Tilaar adalah perempuan inspiratif sejati dan sosok petarung tangguh bagi kaum wanita Indonesia. Pada masa ketika ruang gerak perempuan masih sangat terbatas, Martha berani mendobrak tradisi demi kemajuan dengan melestarikan warisan budaya lokal lewat industri kecantikan berbasis jamu tradisional.
Mahakarya ini tidak hanya mengharumkan namanya di panggung nasional dan internasional, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja serta memberikan pelatihan keterampilan bagi para perempuan marjinal agar berdaya. Gerakan kemanusiaan yang masif ini berhasil menyelamatkan ribuan keluarga dari jerat kemiskinan sistemik melalui pendidikan dan kemandirian finansial.
Tidak hanya tangguh di ranah publik, keteladanan Martha Tilaar dalam kehidupan berkeluarga juga menjadi sorotan utama yang sangat dikagumi oleh Maya Rumantir. Di tengah kesibukan luar biasa mengelola imperium bisnis yang menggurita, almarhumah tetap mampu mendidik anak-anak, mendampingi suami tercinta sepanjang hayat, dan mengutamakan keutuhan serta keharmonisan rumah tangganya.
Bagi Maya, keseimbangan hidup ini adalah contoh nyata bahwa kesuksesan karier tidak harus mengorbankan kebahagiaan keluarga. Keteladanan dalam membina rumah tangga inilah yang dinilai sangat inspiratif bagi generasi muda saat ini, membuktikan bahwa kehangatan keluarga adalah fondasi utama dalam membangun karakter kepemimpinan yang kuat. Prinsip-prinsip moral dan kasih sayang yang diterapkan di rumah merefleksikan kedalaman spiritualitas dan kombinasi antara ketegasan seorang Martha Tilaar. (Recky P. Runtuwene).


